Sukabumi – Protes warga Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, kian menguat. Mereka menduga penggundulan lahan perkebunan di atas permukiman menjadi pemicu utama pergerakan tanah yang kini mengancam rumah-rumah warga.
Sudah puluhan tahun kawasan itu relatif aman. Namun situasi berubah sejak 2025, saat lahan di bagian atas kampung diratakan.
“Dulu pohon karet masih banyak. Sekarang sudah habis ditebang. Sejak diratakan, tiap hujan besar air langsung turun ke pemukiman,” ujar Alisa, warga setempat, Senin (2/3).
Ia mengaku, saat proses pembukaan lahan berlangsung, suara mesin potong (senso) hingga alat berat seperti beko dan dozer terdengar jelas dari bawah kampung.
“Kedengeran sama kita suara mesinnya. Dari bawah juga kelihatan lahannya sudah gundul,” katanya.
Menurutnya, warga sempat melakukan protes dan mendatangi kantor desa pada 2025 ketika aktivitas penggundulan berlangsung. Namun aspirasi tersebut disebut tak mendapat tanggapan serius.
“Sudah pernah protes dan demo ke kantor desa, tapi tidak ditanggapi,” ungkapnya.
Baca Juga : Pergerakan Tanah Cijambe Sukabumi Meluas, 324 Jiwa Terdampak, Lereng Gundul Jadi Sorotan
lahan tersebut akan dimanfaatkan untuk perkebunan buah dan kandang sapi oleh pihak perusahaan. Namun warga mengaku tak pernah menerima sosialisasi resmi.
“Katanya mau dibuat kandang sapi dan kebun buah. Tapi tidak ada izin atau sosialisasi ke warga. Harusnya kalau bikin proyek seperti itu ada pemberitahuan,” tegasnya.
Warga menilai hilangnya vegetasi di lereng atas membuat air hujan tak lagi tertahan. Tanah menjadi labil dan akhirnya bergerak, merusak permukiman di bawahnya.
Mereka kini mendesak proyek dihentikan sementara, dilakukan evaluasi menyeluruh, serta ada pertanggungjawaban atas dampak yang ditimbulkan.
“Kalau tidak dihijaukan lagi, dampaknya akan terus ke masyarakat bawah. Kami minta proyek distop, ada relokasi dan penghijauan kembali. Kami ingin tempat tinggal yang aman,” ujarnya.
Kekecewaan warga makin terasa ketika dalam kondisi terdampak bencana mereka justru diminta berkumpul tanpa solusi konkret.
“Kemarin disuruh kumpul. Kumpul bagaimana? Makan juga tidak ada,” ucapnya lirih.

Sementara itu, Camat Bantargadung, Rahmat Sarifudin, mengakui bahwa faktor penyebab pergerakan tanah bukan hanya tingginya curah hujan, tetapi juga kondisi kekuatan tanah dan minimnya penghijauan di kawasan lereng atas.
“Selain faktor curah hujan, kekuatan tanah juga sangat berpengaruh. Dari hasil pengecekan kami bersama porkofimcam ke lokasi paling atas, di lahan perkebunan perorangan hingga perbatasan perkebunan perusahaan, terlihat lereng dalam kondisi gundul. Tidak ada tanaman sama sekali karena sudah terpotong habis. Penggundulan itu turut mempengaruhi terjadinya pergerakan tanah di Kampung Cijambe,” ujar Rahmat.
Ia menjelaskan, lereng tanpa vegetasi kehilangan daya ikat alami dari akar tanaman. Saat diguyur hujan berintensitas tinggi secara terus-menerus, tanah menjadi sangat rentan bergerak.
“Tanah itu punya daya dukung. Kalau akarnya tidak ada, tidak ada yang mengikat. Begitu hujan deras terus, sangat berisiko terjadi pergerakan,” tegasnya.
Rahmat memastikan pihak kecamatan akan berkoordinasi dengan pemerintah desa, perusahaan terkait, dan dinas teknis di Kabupaten Sukabumi untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
“Kami tidak ingin kejadian ini terulang. Harus ada langkah konkret, baik penguatan lereng maupun penghijauan kembali. Keselamatan warga adalah prioritas,” tandasnya.
Peristiwa ini memunculkan tanda tanya besar soal pengawasan aktivitas pembukaan lahan di kawasan rawan. Warga berharap ada investigasi terbuka dan tindakan tegas agar bencana serupa tak kembali menghantui Cijambe.










