SUKABUMI – Terminal Cibadak yang biasanya hanya menjadi titik lalu lalang kendaraan, beberapa hari terakhir berubah menjadi lautan kendaraan yang merayap pelan. Antrean panjang kendaraan akibat kepadatan arus lalu lintas justru membuka peluang rezeki bagi sebagian warga. Salah satunya dirasakan Devis Purnama, 30, warga Desa Karangtengah, Cibadak.
Pria yang sebelumnya tidak pernah berjualan sebagai pedagang asongan itu kini rutin menyusuri deretan kendaraan yang terjebak macet sambil menjajakan kopi dan minuman hangat. Ia mengaku baru mulai berjualan sejak Minggu lalu, setelah melihat peluang dari kemacetan yang tak kunjung terurai di kawasan Terminal Cibadak.
“Biasanya saya tidak pernah jualan asongan. Tapi karena lihat macet panjang, saya coba bawa kopi dan air panas. Ternyata banyak yang butuh,” ujar Devis saat ditemui di sela-sela aktivitasnya, Sabtu (28/3).
Setiap hari, Devis membawa termos besar berisi kopi panas, lengkap dengan gelas plastik dan gula sachet. Ia berjalan dari satu kendaraan ke kendaraan lain, menawarkan minuman kepada sopir maupun penumpang yang menunggu berjam-jam di jalan.
Hasilnya di luar dugaan. Dalam sehari, Devis bisa mengantongi pendapatan antara Rp250 ribu hingga Rp300 ribu. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan penghasilannya sebelumnya yang tidak menentu.
“Sehari bisa dapat dua ratus lima puluh sampai tiga ratus ribu. Lumayan banget, bisa buat nambah penghasilan di rumah,” katanya sambil tersenyum.
Menurut Devis, kondisi macet justru membuat orang lebih mudah membeli. Banyak pengendara yang kelelahan dan mengantuk sehingga membutuhkan minuman hangat untuk menjaga stamina selama perjalanan.
Ia mengaku tidak menyangka keputusan spontan untuk berjualan justru membawa dampak positif bagi kondisi ekonominya. Selain membantu memenuhi kebutuhan keluarga, aktivitas tersebut juga membuatnya merasa lebih produktif.
“Daripada nganggur di rumah, mending sekalian cari peluang. Macet buat orang lain mungkin bikin kesal, tapi buat saya jadi berkah,” tuturnya.
Fenomena pedagang dadakan di tengah kemacetan memang bukan hal baru saat arus kendaraan meningkat, terutama menjelang dan sesudah masa libur panjang. Namun, bagi Devis, pengalaman ini menjadi pelajaran bahwa peluang usaha bisa datang dari situasi apa pun, bahkan dari kondisi yang bagi sebagian orang dianggap sebagai masalah.
Kini, selama arus lalu lintas di sekitar Terminal Cibadak masih padat, Devis berencana tetap berjualan. Ia berharap penghasilannya bisa terus stabil, setidaknya sampai kondisi jalan kembali normal.










