Metrosukabumi.com – Penantian panjang warga Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, akhirnya terjawab. Jembatan gantung yang sempat viral karena kondisinya “melintir” dan membahayakan, kini resmi mulai diperbaiki, Senin (20/4/2026).
Jembatan yang menghubungkan Kampung Kamandoran dengan Kampung Karang Hilir itu sebelumnya dikenal ekstrem. Miring, rapuh, bahkan hanya disangga bambu seadanya, setiap langkah di atasnya seolah menguji keberanian.
Pantauan di lokasi, aktivitas pengerjaan sudah dimulai. Sejumlah pekerja bersama warga dan Kepolisian tampak melakukan pembersihan area, pembongkaran struktur lama, hingga persiapan pondasi sebagai dasar pembangunan jembatan baru.
Baca Juga : Jembatan Melintir di Cibadak Dipolisline, Brimob Turun Tangan: Akses Ditutup Total
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, memastikan proyek tersebut sudah masuk tahap fisik.
“Pembangunan jembatan mulai dilaksanakan bersama Disperkim, Polres Sukabumi, pemerintah desa, dan masyarakat,” ujarnya.
Bagi warga, jembatan ini bukan sekadar penghubung biasa. Ia adalah urat nadi kehidupan, jalur utama yang setiap hari dilalui pelajar, pedagang, hingga warga yang beraktivitas antar kampung.
Selama ini, warga terpaksa “bertaruh nyawa” setiap kali melintas. Kondisi jembatan yang tidak stabil membuat perjalanan singkat terasa penuh risiko.

Pepen (24), salah satu warga, mengaku lega pengerjaan akhirnya dimulai.
“Harapannya cepat selesai, supaya kami tidak perlu mutar jalan lagi. Ini akses penting, apalagi buat anak-anak sekolah,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan pembangunan rampung dalam waktu maksimal tiga bulan. Jika sesuai rencana, jembatan baru ini diharapkan mampu mengembalikan aktivitas warga secara normal tanpa rasa waswas.
“Diharapkan pembangunan berjalan lancar dan segera dimanfaatkan masyarakat,” tegas Sendi.
Baca Juga : Tak Lagi Terisolasi, Jembatan Perintis Garuda Mulai Dibangun di Sukabumi
Proyek ini juga melibatkan kolaborasi lintas pihak, termasuk aparat kepolisian dan partisipasi warga melalui skema gotong royong. Pendanaannya berasal dari bantuan keuangan khusus untuk desa.
Sebelumnya, kondisi jembatan ini sempat menjadi sorotan publik karena dinilai sangat membahayakan. Rangka besi yang mengalami deformasi serta alas yang tidak rata membuatnya nyaris tak layak dilintasi.












