METROSUKABUMI.com – Sudah dua tahun berlalu sejak bencana pergerakan tanah menghantam Kampung Cihurang, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi. Namun hingga kini, puluhan warga masih bertahan di rumah retak, tanpa kepastian bantuan dari pemerintah.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru berubah menjadi ancaman. Dinding retak, lantai bergeser, hingga bangunan miring menjadi pemandangan sehari-hari warga sejak bencana pada Desember 2024.
Di tengah kondisi itu, Jamal hanya bisa menunjuk bangunan yang nyaris roboh.
“Ini juga termasuk rumah yang kondisinya sudah parah, cuma belum roboh. Yang ini sudah dikosongkan,” ujarnya.
Baca Juga : Jembatan “Melintir” Karangtengah Akhirnya Dibongkar, Warga Tak Lagi Bertaruh Nyawa
Ironisnya, tak semua warga bisa meninggalkan rumah mereka. Bukan karena berani, tapi karena tak punya pilihan.
“Ya mau gimana lagi, nggak ada tempat lain buat tinggal,” katanya lirih.

Kekecewaan warga kian memuncak. Janji bantuan yang diharapkan tak kunjung datang.
“Dari 2024 sampai sekarang belum ada kejelasan,” keluhnya.
Camat Bantargadung, Syarifuddin, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut, ada 30 kepala keluarga terdampak yang hingga kini belum mendapat bantuan hunian tetap (Huntap) maupun hunian sementara (Huntara).
“Total ada 30 rumah dan satu masjid rusak parah akibat pergerakan tanah,” ungkapnya kepada awak mwdia, Senin (20/4).
Baca Juga : Diduga Panik Digerebek, Santri 13 Tahun Tewas Jatuh dari Lantai Dua Pesantren
Di tengah keterbatasan, sebagian warga mencoba bangkit sendiri. Sebanyak 8 KK telah membangun rumah secara mandiri di lahan relokasi seluas 2 hektare di Kampung Cikobak. Namun, sisanya masih terkatung-katung.
“Sebanyak 22 KK masih ada yang bertahan di lokasi bencana, sebagian lainnya mengungsi ke rumah kerabat,” jelasnya.
Yang lebih memprihatinkan, para korban juga belum menerima bantuan dasar seperti uang sewa atau dana tunggu hunian (DTH).
“Belum ada bantuan sama sekali, baik DTH, Huntara, maupun Huntap,” tegas Syarifuddin.
Meski pemerintah mengklaim sudah menyiapkan lahan relokasi, realitas di lapangan belum berubah banyak. Warga masih hidup di tengah ancaman longsor susulan dan bangunan yang sewaktu-waktu bisa ambruk.












