METROSUKABUMI.com – Tim Identifikasi Satreskrim Polres Sukabumi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan antara Kereta Api Pangrango dan truk boks di perlintasan sebidang Kampung Babakan, Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (20/6).
Petugas melakukan pemeriksaan di sejumlah titik yang berkaitan dengan insiden maut tersebut, mulai dari lokasi tabrakan, posisi kendaraan yang terlibat, hingga titik ditemukannya para korban.
Kecelakaan terjadi pada Jumat (19/6) sekitar pukul 15.19 WIB saat KA Pangrango relasi Sukabumi-Bogor melintas dan menabrak truk boks yang berada di perlintasan sebidang tersebut.
Akibat kejadian itu, satu orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka. Korban meninggal dunia diketahui bernama Dodi (43), pengendara sepeda motor yang melintas di sekitar lokasi. Sementara dua korban luka yakni Rizki (31), warga yang sedang membuang sampah di sekitar lokasi, serta Hermawan (33), sopir truk boks. Keduanya sempat menjalani perawatan di RSUD Sekarwangi Cibadak.
Jenazah Dodi telah dibawa pihak keluarga ke kampung halamannya di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, pada Jumat malam untuk dimakamkan.
Proses olah TKP melibatkan Tim Identifikasi Satreskrim Polres Sukabumi, personel Satlantas Polres Sukabumi, serta petugas PT KAI guna mengumpulkan data dan memastikan penyebab kecelakaan. Polisi hingga kini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden tersebut.
Di tengah proses penyelidikan, warga sekitar kembali menyoroti kondisi palang pintu perlintasan yang disebut sudah tidak berfungsi selama sekitar dua tahun terakhir.
Kepala Dusun Kamandoran, Desa Karangtengah, Ferdi, berharap palang pintu di lokasi kejadian dapat kembali dioperasikan demi keselamatan warga yang setiap hari melintasi rel kereta api tersebut.
“Untuk palang pintu yang sudah sekitar dua tahun tidak berfungsi, kami berharap bisa difungsikan kembali agar masyarakat tidak resah dan takut saat melintasi rel kereta. Jangan sampai kejadian serupa kembali terulang,” kata Ferdi, Sabtu (20/6).
Menurutnya, masyarakat telah beberapa kali menyampaikan aspirasi agar fasilitas pengamanan tersebut diperbaiki. Bahkan, warga secara swadaya telah dua kali membangun palang pintu di lokasi tersebut.
“Kami berharap PT KAI mendengar keluhan masyarakat terkait difungsikannya kembali palang pintu. Jangan sampai hanya menjadi pajangan saja. Kejadian ini bukan yang pertama, tetapi sudah yang ketiga kalinya. Masyarakat juga sudah dua kali membangun palang pintu secara swadaya, namun sampai saat ini seolah belum ada tanggapan,” ujarnya.
Peristiwa ini kembali memunculkan perhatian terhadap aspek keselamatan di perlintasan sebidang, terutama pada titik-titik yang memiliki intensitas lalu lintas tinggi dan minim pengamanan.












