Mengintip Aktivitas Warga Binaan Lapas Warungkiara, Dari Besek Hingga Bengkel

Warga binaan Lapas Kelas IIA Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, mengikuti program pembinaan kemandirian untuk mengembangkan keterampilan yang dapat menjadi bekal setelah kembali ke masyarakat. (Foto : Dok. Lapas Warungkiara)

METROSUKABUMI.com – Di balik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, aktivitas produktif terus berjalan. Sebanyak 1.359 warga binaan menjalani keseharian dengan beragam program pembinaan, mulai dari membuat keset, menganyam besek ikan, melukis, hingga belajar perbengkelan dan perkayuan.

Berbagai keterampilan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian untuk membekali warga binaan dengan kemampuan praktis yang dapat dikembangkan setelah kembali ke tengah masyarakat.

Di dalam lapas, waktu tidak hanya diisi dengan rutinitas hunian. Warga binaan juga memperoleh kesempatan untuk belajar, mengasah keterampilan, serta mengembangkan potensi melalui program yang telah disiapkan.

Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka KPLP) Kelas IIA Warungkiara, Ibnu Wibowo, menegaskan pentingnya menciptakan situasi lapas yang aman dan tertib agar seluruh aktivitas pembinaan dapat berlangsung dengan baik.

“Keamanan adalah pondasi utama. Kalau suasana aman, pembinaan juga akan berjalan lebih baik,” ujar Ibnu Wibowo ditemui Metrosukabumi.com, Senin (12/10/2026).

Baca Juga : Panen 250 Kg Sawi di Lapas Warungkiara, WBP Didorong Jadi Petani Produktif

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengamanan dan pembinaan merupakan dua aspek penting dalam penyelenggaraan kehidupan di dalam lapas.

Dari Anyaman Besek hingga Perbengkelan

Program pembinaan kemandirian di Lapas Warungkiara mencakup beragam bidang. Warga binaan dapat mempelajari pembuatan keset, anyaman besek ikan, lap atau majun, lukisan, celengan, replika bonsai, dan kotak tisu.

Selain kerajinan tangan, tersedia kegiatan perbengkelan, perkayuan, peternakan, serta pertanian.

Setiap kegiatan menawarkan pengalaman berbeda. Kerajinan tangan mengasah ketelitian dan kreativitas, sedangkan pelatihan perbengkelan dan perkayuan memberikan kesempatan mempelajari keterampilan teknis.

Bidang pertanian dan peternakan juga menjadi bagian dari pembinaan produktif. Program ini membuka ruang bagi warga binaan untuk mengenal proses produksi, perawatan, hingga pengelolaan hasil.

Melalui kegiatan tersebut, warga binaan diharapkan tidak hanya memiliki pengalaman selama menjalani masa pidana, tetapi juga bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kehidupan setelah bebas.

Mengaji, Sekolah Nonformal hingga Olahraga

Pembinaan di Lapas Warungkiara tidak hanya berorientasi pada keterampilan kerja. Pembinaan kepribadian juga menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan warga binaan kembali ke masyarakat.

Programnya meliputi pembinaan kerohanian dan keagamaan, termasuk kegiatan mengaji dan program nyantri. Warga binaan juga memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan nonformal.

Warga Binaan Lapas saat mengikuti kegiatan pembinaan kepribadian mengaji. (Foto : Dok. Lapas Warungkiara)

Di bidang jasmani, kegiatan olahraga seperti bola voli, sepak bola, dan bulu tangkis menjadi bagian dari aktivitas rutin. Sementara itu, kegiatan musik memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan minat di bidang kesenian.

Pembinaan kesadaran hukum atau Kadarkum, pemahaman mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara, serta kegiatan peringatan hari besar juga masuk dalam program pembinaan kepribadian.

Kombinasi kegiatan tersebut diharapkan membantu warga binaan mengembangkan kemampuan sekaligus memperkuat sikap dan tanggung jawab sosial.

Aktivitas Dimulai Sejak Pagi

Keseharian warga binaan berlangsung mengikuti jadwal yang telah ditentukan. Sekitar pukul 06.30 WIB, petugas membangunkan penghuni dan melakukan apel serta penghitungan jumlah warga binaan di kamar.

Setelah makan pagi, kegiatan pembinaan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Warga binaan mengikuti program kemandirian maupun kepribadian sesuai agenda yang tersedia.

Sekitar pukul 16.00 WIB, mereka kembali ke kamar. Kegiatan olahraga bersama juga dijadwalkan setiap Sabtu sesuai pengaturan lapas.

Rutinitas tersebut menjadi bagian dari pengelolaan kehidupan di dalam lapas, sekaligus memberi ruang bagi pelaksanaan pembinaan secara teratur.

1.359 Penghuni, Kapasitas Lapas 618 Orang

Di balik beragam kegiatan pembinaan itu, Lapas Kelas IIA Warungkiara menghadapi tantangan kepadatan hunian.

Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah warga binaan mencapai 1.359 orang, sedangkan kapasitas lapas tercatat hanya 618 orang. Dengan demikian, jumlah penghuni melampaui kapasitas sebanyak 741 orang.

Baca Juga : Razia Gabungan di Lapas Warungkiara, Petugas Temukan Barang Terlarang

Dari total penghuni, sebanyak 1.333 orang merupakan laki-laki dan 26 orang perempuan. Data yang dihimpun juga mencatat satu warga negara Malaysia.

Jumlah pegawai lapas tercatat sebanyak 84 orang, termasuk kepala lapas.

Kepadatan tersebut menjadi tantangan dalam pengelolaan hunian, pengawasan, dan pelaksanaan pembinaan. Data yang tersedia menyebut kamar berkapasitas sekitar 29 orang kini dihuni hingga 80 orang. Sementara kamar yang semestinya menampung sekitar 12 orang dihuni sekitar 30 orang.

Kondisi tersebut menuntut pengelolaan yang cermat agar keamanan, ketertiban, dan kegiatan pembinaan tetap berjalan.

Pada akhirnya, program pembinaan di Lapas Warungkiara bukan sekadar mengisi waktu selama menjalani masa pidana. Di balik aktivitas membuat kerajinan, belajar bertani, mengaji, dan mengikuti pendidikan, terdapat upaya mempersiapkan warga binaan agar memiliki kemampuan untuk menata kehidupan setelah kembali ke masyarakat.

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *