Warga Keluhkan Revitalisasi Irigasi Cisekarwangi, Soal Material hingga Minim Sosialisasi

Pekerja melakukan pembangunan revitalisasi jaringan irigasi Cisekarwangi di Kampung Sindangresmi, Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Proyek senilai lebih dari Rp280 juta tersebut menjadi sorotan warga karena dinilai minim sosialisasi dan tidak melibatkan tenaga kerja lokal. (Foto : Metrosukabumi.com)

METROSUKABUMI.com – Revitalisasi jaringan irigasi cisekarwangi yang berlokasi di kp sindangresmi, Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak disoal warga. Dikarenakan menggunakan pasir merah, batu dari galian disekitar lokasi dan belum adanya sosialisasi penutupan aliran air ke daerah hilir.

Informasi dihimpun revitalisasi tersebut bersumber dari APBD Kabupaten Sukabumi TA 2026 dengan nominal 280 juta lebih melau Dinas Pekerjaan Umum dan dikerjakan oleh CV HIBAR Gumilang.

Pantauan dilapangan, proyek revitalisasi sudah mulai dikerjakan, terlihat beberapa pegawai sudah mengerjakan penggalian ceker ayam dan pondasi serta sedang melakukan pengerjaan besi.

Teguh (30) salah seorang pemuda warga sekitar menyayangkan pembangunan revitalisasi irigasi tersebut tanpa ada sosialisasi terlebih dahulu dan tidak melibatkan warga sekitar untuk pengerjaan.

“Iya belum ada sosialisasi. Langsung pengerjaan dan warga sini pun tidak ada yang ikut bekerja,” tuturnya.

Menurut ia, hal tersebut sangat disayangkan, dikarenakan seharusnya kalo ada pembangunan melibatkan warga sekitar, sementara ini tidak.

Hal berbeda disampaikan Acil Suhendar pemborong pekerjaan revitalisasi irigasi cisekarwangi. Ia menyebutkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan tokoh sekitar dan pengadaan pasir serta batu pun melalui kepala desa Karangtengah.

“Sebelum mulai pengerjaan kita sudah berkoordinasi dengan salah seorang tokoh disini (dilokasi). Pengadaan pun melalui kades,” katanya.

Kata ia, pasir merah yang disebutkan itu adalah pasir pasang dari jebrod. Serta batu pun ia mengaku belum menggunakan batu dari lokasi.

“Pasir dan batu belum kita pakai, pengadaan pun melalui kades. Apalagi batu yang dilokasi hasil galian pondasi kita tidak menggunakannya,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *