Harga Kedelai Melonjak, Pengrajin Tempe Bertahan: Pasok Program Makan Bergizi Gratis Tetap Jalan

Dari sebelumnya sekitar Rp920 ribu per kuintal, kini harga menembus Rp1,1 juta.

SUKABUMI – Lonjakan harga kedelai impor kian menekan pelaku usaha tempe. Dari sebelumnya sekitar Rp920 ribu per kuintal, kini harga menembus Rp1,1 juta. Kenaikan ini langsung berdampak pada biaya produksi industri rumahan yang selama ini bergantung pada bahan baku impor.

Di tengah kondisi tersebut, para pengrajin tempe memilih tidak menaikkan harga jual. Langkah ini diambil demi menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan pelanggan.

“Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa berkurang. Jadi kami tetap jual dengan harga lama,” ujar Bambang (40) salah satu pengrajin.

Menariknya, keputusan bertahan ini juga dilakukan oleh pengrajin yang menjadi pemasok dapur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka memastikan distribusi tempe untuk kebutuhan program tetap berjalan normal.

Bagi para pengrajin, pasokan ke dapur MBG bukan sekadar bisnis, tetapi juga bagian dari kontribusi terhadap pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak. Karena itu, mereka berkomitmen menjaga kualitas produk meski biaya produksi melonjak.

Baca juga: Ambulans Baznas vs Pick Up di Cikembar, Satu Korban Patah Tulang

“Kami tetap kirim seperti biasa. Kualitas tidak boleh turun, karena ini untuk konsumsi anak-anak,” kata pengrajin lainnya.

Sejumlah pengrajin mengaku memilih menekan keuntungan demi menjaga keberlanjutan kerja sama tersebut. Takaran kedelai tetap, ukuran tempe tidak dikurangi, dan proses produksi dijaga agar higienis serta sesuai standar.

Langkah ini menjadi strategi bertahan di tengah gejolak harga bahan baku. Selain menjaga kepercayaan konsumen umum, mereka juga ingin memastikan program MBG tetap mendapatkan pasokan pangan bergizi yang layak.

Namun di balik itu, kekhawatiran tetap ada. Jika harga kedelai terus merangkak naik, daya tahan pengrajin kecil bisa kian tergerus.

Untuk saat ini, para pengrajin tempe masih memilih bertahan di garis depan: harga tetap, kualitas dijaga, dan pasokan untuk program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *