Debu Proyek Tol Bikin Sesak, Warga Karangtengah Minta SOP Ditegakkan

Debu tebal yang beterbangan disebut mengganggu kesehatan hingga keselamatan pengguna jalan.

Metrosukabumi.com – Aktivitas truk pengangkut tanah untuk proyek tol kembali dikeluhkan warga di sepanjang Jalan Nasional Sukabumi–Bogor, tepatnya di Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak.

Debu tebal yang beterbangan disebut makin parah usai libur Lebaran dan mulai mengganggu kesehatan hingga keselamatan pengguna jalan.

Romli (30), pengendara motor yang hampir setiap hari melintas di jalur tersebut, mengaku kondisi jalan kini jauh lebih memprihatinkan. Intensitas kendaraan proyek yang tinggi membuat tanah berceceran di aspal dan memicu debu saat cuaca panas.

“Paling parah itu habis Lebaran. Debunya tebal sekali, sampai ganggu pernapasan dan jarak pandang. Kalau siang panas, debu makin pekat,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi berbalik berbahaya saat hujan turun. Jalanan menjadi licin akibat campuran tanah dan air. Bahkan, kata dia, sempat beredar informasi dua pengendara terjatuh di wilayah Nagrak, satu di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit.

“Kalau hujan itu paling bahaya. Jalan licin, banyak kendaraan proyek lalu lalang. Pengendara motor sangat terganggu,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan Rahman (47), warga Kampung Lodaya, Desa Karangtengah. Ia menyebut lonjakan aktivitas pengangkutan tanah kembali terasa dalam beberapa hari terakhir, terutama sejak sepekan setelah Lebaran.

Baca Juga: Gugat Balik Polisi, Ibu Tiri Nizam Minta Status Tersangka Dibatalkan

“Baru dua hari ini terasa parah lagi. Mungkin karena cuaca panas, terus gerimis, jadi debu nempel dan beterbangan,” katanya.

Sebagai pedagang daging, Rahman mengaku harus ekstra menjaga dagangannya agar tetap higienis. Debu yang beterbangan memaksanya menutup rapat lapak.

“Jelas terganggu. Harus ditutup terus supaya tetap bersih. Ini kan jualan makanan, harus steril,” ujarnya.

Warga juga menyoroti minimnya penanganan dari pihak proyek. Menurut Rahman, kendaraan yang keluar dari area proyek kerap dalam kondisi kotor tanpa dibersihkan terlebih dahulu.

Baca Juga: Balap Liar Berujung Maut di Ujunggenteng, Satu Tewas Satu Kritis

“Harusnya ada penyemprotan atau pembersihan sebelum keluar ke jalan raya. Ini mah langsung keluar saja,” keluhnya.

Ia menambahkan, upaya penyiraman jalan sempat dilakukan di awal proyek sekitar enam bulan lalu, namun kini sudah tidak terlihat lagi.

Baik Romli maupun Rahman menegaskan, warga tidak menolak proyek strategis nasional tersebut. Namun, mereka meminta pihak pelaksana dan pemerintah daerah menjalankan standar operasional prosedur (SOP) secara konsisten.

“Bukan menolak proyek, tapi tolong SOP dijalankan. Kendaraan harus dibersihkan dulu sebelum keluar, jangan sampai tanah berceceran di jalan,” tegas Romli.

Warga berharap ada langkah konkret untuk mengurangi dampak debu, mulai dari penyiraman rutin hingga pengawasan ketat terhadap kendaraan proyek, agar aktivitas pembangunan tidak mengorbankan kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Editor: A. Chandra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *