SUKABUMI – Suara perlawanan driver ojek online (ojol) menggema di Kota Sukabumi. Lewat forum bedah buku “Menunggu dan Matinya Waktu Luang”, para pengemudi tak lagi sekadar menarik penumpang—mereka kini menulis, bersuara, dan melawan sistem yang dinilai tak berpihak.
Diskusi dan bedah buku yang mengangkat kisah perjuangan pengemudi online dari tiga kota ini menjadi ruang terbuka bagi para driver untuk menyuarakan realitas keras di lapangan. Kegiatan tersebut digagas oleh Serikat Pengemudi Demokrasi Indonesia (SPDI) dengan menghadirkan para penulis yang juga merupakan driver ojol di Sukabumi.
Tak sekadar forum literasi, acara ini juga menghadirkan perspektif kritis dari berbagai elemen, mulai dari Serikat Pekerja Nasional hingga LBH Sukabumi Officium Nobile. Mereka menguliti isi buku yang dinilai merekam secara jujur kehidupan para driver—terutama ojol perempuan yang harus membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan.

“Ini luar biasa. Di tengah rendahnya budaya literasi, teman-teman ojol mampu menulis pengalaman hidupnya sendiri,” ujar salah satu penanggap, Rozak Daud.
Menurutnya, tulisan para driver bukan sekadar cerita, melainkan catatan penting perjuangan pekerja sektor informal yang selama ini kerap terpinggirkan. Ia juga menyoroti status pengemudi online yang hingga kini masih abu-abu—dianggap mitra, tapi bekerja layaknya karyawan tanpa perlindungan jelas.
“Kalau disebut mitra, tidak jelas. Tapi kalau pekerja, mereka tidak punya kontrak, tidak ada jaminan kecelakaan kerja, dan tanpa tunjangan. Ini problem serius,” tegasnya.
Rozak bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk “kolonialisme teknologi”. Para driver dipaksa mengikuti sistem aplikasi dengan jam kerja tak pasti, sementara seluruh biaya operasional ditanggung sendiri.
Baca Juga: Dua Sekolah Ambruk Beruntun, Simpul Sukabumi: Alarm Keras Bobroknya Pengelolaan Pendidikan
Dalam forum itu, pemerintah daerah juga didorong untuk tidak tinggal diam. Meski regulasi ojol berada di tangan pemerintah pusat, daerah dinilai tetap memiliki kewajiban memberikan perlindungan, mulai dari penyediaan shelter, fasilitas istirahat, hingga jaminan sosial ketenagakerjaan.
Diskusi ini pun tak berhenti sebagai agenda bedah buku semata. Lebih dari itu, forum ini menjadi ajang konsolidasi gagasan untuk mendorong perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan driver online.
Dari jalanan ke halaman buku, para ojol kini tak hanya mengantar penumpang, tetapi juga membawa pesan: mereka butuh keadilan, bukan sekadar rating dan orderan.












