252 Siswa SDN Ciherang Tak Dapat MBG 5 Bulan, Alasan “Over Kuota” Bikin Tanda Tanya

Korcam Klaim Semua Sekolah Sudah Terima, Fakta di Lapangan Berbeda

METROSUKABUMI.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang membantu pemenuhan gizi siswa justru mandek di SDN Ciherang, Desa Gunung Malang, Kecamatan Cikidang. Sebanyak 252 siswa di sekolah tersebut tercatat sudah lebih dari lima bulan tidak menerima program tersebut.

Ironisnya, sekolah lain di wilayah sekitar justru masih rutin mendapatkan distribusi MBG.

Guru SDN Ciherang, Andri, mengungkapkan penyaluran MBG terakhir diterima pada Januari 2026. Sejak saat itu, tidak ada lagi distribusi maupun pemberitahuan resmi dari pihak terkait.

“Tidak ada pemberitahuan resmi. Kami sudah komunikasi dengan Kepala Dapur SPPI, katanya over kuota penerima manfaat,” ujar Andri, Senin (11/5).

Kondisi ini langsung memicu keluhan dari orang tua siswa. Mereka menilai program tersebut sangat membantu, terutama untuk mengurangi beban uang jajan anak.

Baca Juga: Lonjakan Pasien di RSUD Sekarwangi, IGD Sempat Overload! Ini Respons Bupati

Salah seorang wali murid mengaku anaknya kerap mempertanyakan penghentian program tersebut.

“Anak saya suka bilang, ‘kok di sini nggak dapat lagi, Pak?’. Padahal itu lumayan buat hemat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan salah satu siswa. Ia mengaku sudah lama tidak menerima MBG dan berharap program itu kembali berjalan.

“Sudah lama nggak dapat. Teman-teman juga nunggu,” katanya singkat.

Baca Juga: Truk Bermuatan Peralatan Perbaikan Jembatan Masuk Jurang 50 Meter di Cisarakan Palabuhanratu, Dua Orang Terluka

Namun, fakta di lapangan berbanding terbalik dengan pernyataan Koordinator Kecamatan (Korcam) Cikidang yang juga bernama Andri. Ia menyebut seluruh sekolah di wilayahnya telah menerima program MBG tanpa kendala.

Perbedaan informasi ini memunculkan tanda tanya besar. Terutama terkait transparansi dan validitas data penerima manfaat program tersebut.

Jika benar alasan “over kuota” menjadi penyebab, maka perlu ada kejelasan soal mekanisme penentuan kuota dan distribusi. Sebab, ketimpangan seperti ini berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial di kalangan siswa dan orang tua.

Program MBG sejatinya dirancang untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah. Namun tanpa pengawasan ketat, program ini rawan tidak tepat sasaran bahkan berpotensi disalahgunakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *