Diduga Panik Digerebek, Santri 13 Tahun Tewas Jatuh dari Lantai Dua Pesantren

Petugas kepolisian dan puskesmas melakukan penanganan santri yang tewas di pesantren Al Muhajirin. Foto : Istimewa

METROSUKABUMI.com – Peristiwa tragis mengguncang dunia pesantren di Kecamatan Parakansalak. Seorang santri berusia 13 tahun, Muhamad Arya Agung, meregang nyawa setelah terjatuh dari lantai dua Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Kampung Cikadu, Desa Sukatani, Sabtu (19/4) sekitar pukul 15.00 WIB.

Insiden ini diduga bermula dari kepanikan di dalam kamar. Korban yang merupakan siswa kelas 7 SMP itu berada bersama empat rekannya saat kejadian berlangsung.

Baca Juga : Tragis! Santri 13 Tahun Tewas Jatuh dari Lantai Dua Pesantren di Parakansalak

Pimpinan Ponpes Al-Muhajirin, Ustad Jamiludin, mengungkapkan, sebelum kejadian para santri diduga tengah melakukan pelanggaran dengan merokok di dalam kamar. Situasi berubah tegang ketika terdengar ketukan pintu dari luar.

“Mereka mengira yang datang adalah pimpinan pesantren. Padahal saat itu saya sedang menerima tamu,” ujar Jamiludin.

Diduga panik dan takut ketahuan, korban nekat melompat melalui jendela dari lantai dua. Satu santri lain berinisial L ikut melompat dan mengalami luka di bagian tangan. Sementara dua santri lainnya, M dan R, tetap berada di dalam kamar.

Peristiwa itu baru diketahui pengelola pesantren setelah korban sudah tergeletak di bawah. Upaya pertolongan sempat dilakukan, namun nyawa korban tidak dapat diselamatkan.

“Kami langsung membawa korban untuk penanganan, tapi korban dinyatakan meninggal di tempat,” lanjutnya.

Kabar duka ini juga dibenarkan oleh Pimpinan Ponpes Al-Kholilyah Mubarokah, H. Dedi Wahyudi. Ia menyebut korban merupakan santrinya yang saat itu berada di luar lingkungan pesantren.

“Awalnya mereka keluar untuk potong rambut di sekitar lokasi. Tidak lama kemudian kami mendapat kabar kecelakaan. Kami sangat terpukul,” ungkapnya.

Baca Juga : Banjir Datang Saat Hujan Reda, 20 Rumah di Pamuruyan Cibadak Kembali Terendam

Jenazah korban kemudian dibawa pihak pesantren untuk dimandikan dan disalatkan sebelum diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

“Atas nama pesantren, kami menyampaikan duka mendalam dan permohonan maaf kepada keluarga. Ini akan menjadi evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Pasca kejadian, aparat dari Polsek Parakansalak bersama tenaga kesehatan dan perangkat desa langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara.

Dari informasi yang dihimpun, tiga santri yang berada di kamar merupakan siswa SMP Al-Kholilyah, sementara satu lainnya tercatat sebagai siswa SMK Yapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *