Jembatan Cijaha Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Bangun Penyeberangan Kayu

Jembatan Cijaha yang menghubungkan Kampung Cijaha, Desa Bantarpanjang, dan Kampung Bojongwaru, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, putus sejak 19 April 2026. (Foto : Ikbal BK|metrosukabumi.com)

METROSUKABUMI.com – Jembatan Cijaha yang menghubungkan Kampung Cijaha, Desa Bantarpanjang, dengan Kampung Bojongwaru, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, putus sejak 19 April 2026. Hingga Senin (19/10/2026), jembatan tersebut belum diperbaiki, sehingga warga terpaksa mengandalkan jembatan kayu buatan sendiri untuk menyeberang.

Jembatan yang dibangun sekitar 1983–1984 itu berada di atas aliran kecil Kali Cijaha. Kerusakan tersebut berdampak pada mobilitas warga, terutama pengguna kendaraan roda empat yang tidak lagi bisa melintas secara langsung.

Warga harus menempuh jalur alternatif dengan jarak tambahan sekitar dua kilometer. Namun, kondisi jalan alternatif tersebut juga dilaporkan kurang baik karena berupa bebatuan cadas.

Baca Juga : Toyota Rush Terbakar di Cikidang Sukabumi, Diduga Korsleting Listrik

Arman (40), warga setempat, mengatakan jembatan ambruk setelah hujan disertai longsor pada Minggu (19/4/2026) sekitar pukul 02.00 WIB.

“ Kendaraan roda dua bisa melintas menggunakan jembatan terbuat dari kayu untuk penyeberangan anak sekolah yang dibangun warga sekitar. Kalau lewat jalan pintas, jauh dua kilometer, itu juga jalannya sama-sama rusak,” jelas Arman, Senin (19/10/2026).

Jembatan kayu sementara itu menjadi salah satu akses yang masih digunakan warga, termasuk pelajar dan masyarakat yang membutuhkan perjalanan lebih singkat. Namun, keberadaan jembatan darurat tersebut belum mengembalikan fungsi jembatan utama seperti semula.

Aris (23), pengajar di SMK Master Teknologi Jampangtengah, mengaku masih memilih jalur tersebut ketika harus mengejar waktu kerja.

Baca Juga : Pengerukan Tanah Merah Nagrak Disebut Bukan Komersial, Perizinan Tetap Disorot

“ Tetap melewati jalur ini kalau terburu-buru karena jaraknya lebih dekat. Jalur alternatif yang melewati jembatan putus kondisinya agak kurang bagus, tetapi tetap dipilih saat terburu-buru dibandingkan jalur lain yang lebih memutar meskipun jalannya lebih bagus,” ujarnya.

Di sisi lain, status kepemilikan atau kewenangan pengelolaan jalan dan jembatan tersebut belum dapat dipastikan. Upaya awak media untuk menemui Camat Jampangtengah belum membuahkan hasil karena yang bersangkutan tidak berada di tempat.

Kejelasan status aset menjadi salah satu hal yang perlu ditelusuri untuk memastikan instansi yang berwenang menangani perbaikan jembatan tersebut.

Warga berharap pemerintah segera melakukan penanganan agar akses penghubung kedua desa kembali berfungsi. Perbaikan dinilai penting untuk mendukung kelancaran aktivitas masyarakat dan perjalanan pelajar yang selama ini terdampak putusnya jembatan.

Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi mengenai rencana perbaikan maupun kepastian waktu pengerjaan jembatan Cijaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *