METROSUKABUMI.com – Sebanyak 134 santri Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati, Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, mengalami sejumlah keluhan kesehatan sejak Jumat (14/8). Mereka mengeluhkan pusing, mulas hingga muntah-muntah setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG).
Pimpinan Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati, Faid Fauzan, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab keluhan tersebut. Termasuk memastikan apakah berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi para santri.
“Anak-anak sakit dengan gejala muntah-muntah memang mengarah pada keracunan, tapi belum dirilis secara resmi dari rumah sakit bahwa ini adalah keracunan,” kata Faid kepada awak media, Sabtu (15/8).
Menurut Faid, gejala awal mulai dirasakan sejumlah santri sekitar pukul 14.30 WIB. Sementara makanan MBG disantap sekitar pukul 12.30 WIB setelah makanan tiba di pondok sekitar pukul 11.00 WIB.
Keluhan kemudian berkembang. Sejumlah santri mengalami muntah dan mulas pada malam hari. Kondisi tersebut semakin terlihat pada Sabtu pagi setelah para santri melaksanakan salat Subuh dan mengikuti halaqah.
“Begitu tidur, pagi tadi setelah Subuh kami selesai halaqah Subuh, kami mendapati banyak santri yang muntah-muntah. Nah, mencuatnya itu setelah Subuh,” jelasnya.
Melihat jumlah santri yang mengalami keluhan terus bertambah, pihak pondok membawa mereka untuk mendapatkan penanganan medis. Sebagian santri terlebih dahulu dibawa ke puskesmas dan kemudian dianjurkan mendapat penanganan lebih lanjut di IGD RSUD Al-Mulk.
Sebagian lainnya kemudian dirujuk atau dibawa ke RS Bunut. Total terdapat 134 orang yang mengalami keluhan, terdiri atas 133 santri dan satu orang dewan asatiz.
Jumlah tersebut cukup signifikan jika dibandingkan dengan total santri di Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati yang mencapai 645 orang.
“134 itu memang bukan angka yang sedikit, tapi saya tidak mau gegabah mengatakan ini keracunan karena itu bukan ranah saya,” ujar Faid.
Hingga Sabtu, sejumlah santri masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sebagian lainnya telah diperbolehkan pulang ke pondok. Faid menyebut sekitar 10 hingga 15 santri telah kembali ke pondok dalam dua kloter dan kondisi sejumlah santri yang masih dirawat mulai membaik.
Untuk mengetahui penyebab keluhan tersebut, Dinas Kesehatan Kota Sukabumi telah mengambil sampel makanan yang dikonsumsi para santri. Sampel selanjutnya akan diperiksa di laboratorium dan dibandingkan dengan hasil pemeriksaan medis para santri.
Menu MBG yang dibagikan pada Jumat terdiri atas nasi, tumis pakcoy, balado telur ceplok, orek tempe, serta susu UHT kemasan. Sampel makanan diambil dari sisa menu yang masih tersedia di SPPG.
Di Pondok Pesantren Alam Baiti Jannati, program MBG disuplai oleh dua SPPG, yakni SPPG Al-Muslim dan SPPG Cemerlang.
Faid mengatakan program MBG di pesantren tersebut telah berjalan sekitar tujuh bulan. Selama periode tersebut, pihak pondok mengaku belum pernah mengalami kejadian serupa.
“Kami belum pernah kejadian apa-apa, baik-baik saja. Menunya bagus, kemudian ketepatan waktu hadirnya selalu tepat waktu. Kami bahagia, alhamdulillah merasa terbantu,” katanya.
Karena itu, pihak pondok memilih tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab keluhan para santri. Selain makanan MBG, para santri juga mengonsumsi makanan lain yang disediakan pihak pondok pada waktu berbeda.
“Kami berusaha untuk melihat ini dengan cara sangat objektif,” ujarnya.
Pihak pondok juga meminta Dinas Kesehatan Kota Sukabumi melakukan investigasi di lingkungan pesantren. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat menemukan faktor lain yang mungkin perlu dievaluasi untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Faid menyebut evaluasi juga dilakukan terhadap cara penyimpanan dan penempatan makanan setelah MBG tiba di lingkungan pondok. Edukasi kepada para santri mengenai cara memperlakukan makanan juga dinilai penting.
“Kami berharap mudah-mudahan semua pihak bisa melihat ini dengan dingin, kemudian bisa turut mendoakan dan mensupport agar kami berfokus hanya pada dua hal,” tuturnya.
Dua fokus tersebut adalah memastikan para santri segera pulih serta melakukan evaluasi internal di lingkungan pesantren.
“Di pondok pesantren kami ada bagian-bagian tertentu yang terjadi kontaminasi atau yang tidak sesuai standar, itu biarlah menjadi evaluasi untuk kami,” pungkasnya.












