Sulap Sampah Jadi Pangan! Budidaya Maggot di Warudoyong Sukabumi Jadi Andalan Ketahanan Warga

Aktivitas budidaya maggot di RW 1 Kelurahan Warudoyong, Kota Sukabumi, yang memanfaatkan sampah organik menjadi pakan ternak dan sumber ketahanan pangan warga. (Foto : Istimewa)

METROSUKABUMI.com – Inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat kembali lahir dari Kota Sukabumi. Di RW 1 Kelurahan Warudoyong, budidaya maggot bukan hanya solusi limbah, tapi juga mulai menjadi penopang ketahanan pangan warga.

Pemerintah Kota Sukabumi terus mendorong inovasi lingkungan berbasis masyarakat. Salah satunya terlihat di RW 1 Kelurahan Warudoyong yang sukses mengembangkan budidaya maggot sebagai solusi pengelolaan sampah sekaligus sumber ekonomi baru.

Lurah Warudoyong, Nuke Nurul Aini, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di wilayahnya dilakukan secara terintegrasi. Sampah rumah tangga dikumpulkan, lalu dipilah antara organik dan anorganik sebelum diolah lebih lanjut.

Baca Juga: Mayoritas Lansia, 62 Calhaj Sukabumi Dilepas: Bupati Minta Saling Jaga di Tanah Suci

“Sampah organik kita jadikan pakan maggot. Maggot ini bisa dipanen sekitar 18 sampai 20 hari,” ujarnya saat meninjau lokasi, Rabu (6/5).

Hasilnya tidak main-main. Maggot yang dihasilkan tidak hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga memiliki nilai ekonomis tinggi. Warga memanfaatkannya sebagai pakan ternak seperti ayam dan bebek.

“Dari pengembangan ini, kami sudah memiliki ternak ayam dan bebek. Saat ini ada sekitar 20 ekor. Harapannya bisa terus berkembang menjadi penopang ketahanan pangan warga,” tambahnya.

Baca Juga: Petir Sambar Rumah Warga di Ciambar Sukabumi, Satu Orang Tak Sadarkan Diri

Program ini juga berdampak langsung pada kebersihan lingkungan. Pengelolaan sampah menjadi lebih tertib, sehingga kawasan RW 1 terlihat lebih bersih dan nyaman.

Tak hanya itu, inovasi ini juga menjadi bagian dari keberhasilan Warudoyong meraih juara pertama dalam sayembara pengelolaan sampah tingkat Kota Sukabumi.

Ke depan, model budidaya maggot ini diharapkan bisa direplikasi di wilayah lain sebagai solusi ganda: mengurangi sampah sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *