METROSUKABUMI.com – Jejak perjuangan dua tokoh penting bangsa, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, kembali dihidupkan di Kota Sukabumi. Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir di Jalan Bhayangkara, Kota Sukabumi, resmi diresmikan, Sabtu (12/9/2026).
Peresmian museum tersebut dilakukan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Kehadiran museum ini menjadi bagian penting dalam upaya merawat memori sejarah sekaligus memperkenalkan perjalanan perjuangan para tokoh bangsa kepada generasi muda.
Rumah pengasingan tersebut memiliki nilai sejarah karena menjadi bagian dari perjalanan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Setelah melalui revitalisasi dan penataan, bangunan bersejarah itu kini diarahkan tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu. Museum tersebut diharapkan berkembang sebagai ruang edukasi sejarah dan kebudayaan yang dapat diakses masyarakat.
Keberadaan museum juga memperkuat potensi wisata sejarah di Kota Sukabumi. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati bangunan bersejarah, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai perjalanan perjuangan dua tokoh bangsa yang memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia.
Museum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah kemerdekaan tidak hanya berlangsung di pusat-pusat kekuasaan. Sukabumi juga memiliki jejak penting yang berkaitan dengan perjalanan para tokoh nasional.
Baca Juga : Akses TPA Cikundul Ditutup Warga, Wakil Walkot Sukabumi Janji Cari Anggaran Pengurugan
Dengan revitalisasi tersebut, Museum Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir diharapkan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Kota Sukabumi.
Lebih dari itu, museum diharapkan mampu menjadi ruang belajar bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, maupun masyarakat umum untuk mengenal sejarah secara lebih dekat.
Peresmian museum pada 12 September 2026 pun menjadi momentum baru bagi Kota Sukabumi dalam memperkuat sektor kebudayaan sekaligus mengembangkan wisata berbasis sejarah.
Jejak Hatta dan Sjahrir yang tersimpan di rumah pengasingan tersebut kini diharapkan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Melainkan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi sekarang dan mendatang tentang perjuangan, kebangsaan, serta perjalanan panjang Indonesia menuju kemerdekaan.













Respon (1)