SUKABUMI – Derita korban banjir bandang di Kecamatan Cisolok belum berakhir. Lima bulan berlalu sejak bencana menerjang Kampung Tugu, Desa Cikahuripan, puluhan warga masih hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Mereka belum pulang ke rumah. Bahkan, sebagian masih bertahan di tenda darurat. Bukan sehari dua hari. Tapi lima bulan.
“Kami masih tinggal di tenda. Belum ada kejelasan bantuan sampai sekarang,” ujar ER (43), warga Kampung Citugu RT 01 RW 01, Senin (6/4).
Ia mengaku, harapan sempat muncul di awal bencana. Pemerintah datang. Janji perbaikan rumah disampaikan. Warga diminta bersabar.
Namun waktu terus berjalan. Realisasi tak kunjung datang.
“Katanya rumah akan segera diperbaiki. Tapi sampai sekarang belum ada,” ucapnya, getir.

Kondisi ini membuat warga kian tertekan. Hidup di pengungsian bukan perkara mudah. Keterbatasan fasilitas, cuaca tak menentu, hingga ketidakpastian masa depan jadi beban harian.
Harapan untuk bangkit perlahan memudar.
Di sisi lain, polemik bantuan juga mencuat. Warga menyoroti pendataan dari Baznas Kabupaten Sukabumi yang dinilai tak transparan.
Sejumlah rumah memang didata dan diberi tanda. Namun, siapa penerima bantuan, tak jelas.
“Didata iya, tapi yang dapat siapa? Kami tidak tahu. Ini yang jadi pertanyaan,” tegas ER.
Baca juga: Banjir Terjang Pamuruyan Cibadak, 25 KK Terdampak, BPBD Sukabumi Bergerak Cepat
Situasi ini memunculkan kecurigaan. Warga khawatir bantuan tidak tepat sasaran. Pengawasan dinilai lemah. Transparansi dipertanyakan.
Di tengah kondisi serba sulit, warga hanya bisa berharap. Mereka menunggu kepastian yang tak kunjung datang.
“Kami ini korban. Kami butuh kejelasan, bukan janji,” tandasnya.
Lima bulan pascabencana, para korban masih bertahan di tenda. Sementara janji pemulihan, hingga kini, belum juga nyata.












