Krisis Air Bersih Meluas di Cibadak, 530 KK di Desa Sekarwangi Terdampak Kemarau Tiga Pekan

Warga Kampung Babakansari, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, memanfaatkan air sungai yang keruh untuk kebutuhan sehari-hari. (Foto : Metrosukabumi.com).

METROSUKABUMI.com – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Sukabumi mulai memicu krisis air bersih di Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak. Sebanyak 530 kepala keluarga (KK) dilaporkan terdampak setelah sumber-sumber air mengering selama kurang lebih tiga pekan.

Berdasarkan asesmen Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cibadak, wilayah yang terdampak meliputi Kampung Babakansari RW 17 sebanyak 220 KK dan Kampung Bantar Mungcang Atas RW 06 sebanyak 310 KK.

Baca Juga : Kebakaran Lahan Gegerkan Pamuruyan Cibadak, Diduga Akibat Pembakaran yang Ditinggalkan

Warga kini terpaksa memanfaatkan air sungai yang keruh untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan sanitasi. Sementara untuk kebutuhan air minum, mereka harus membeli air isi ulang dari luar wilayah karena air sungai tidak layak dikonsumsi.

Selain mengganggu kebutuhan sehari-hari, kemarau berkepanjangan juga menyebabkan lahan pertanian mengering sehingga berpotensi mengalami gagal panen.

Baca Juga : Keren! SDN Bunut Kenalkan Artificial Intelligence kepada Siswa Lewat Program Literasi Digital

P2BK Cibadak, Mawaldi, mengatakan pihaknya telah melakukan asesmen bersama unsur terkait untuk memastikan kondisi warga terdampak sekaligus melaporkan kebutuhan penanganan kepada BPBD Kabupaten Sukabumi.

“Hasil asesmen menunjukkan sebanyak 530 kepala keluarga terdampak kekurangan air bersih. Kondisi ini sudah berlangsung sekitar tiga minggu akibat musim kemarau. Kami terus memantau perkembangan di lapangan dan berkoordinasi agar bantuan air bersih dapat segera disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Mawaldi.

Baca Juga : Sidang Perdana Ayah Nizam Ditunda, Anwar Hadapi Hakim Tanpa Pengacara, Farhat Abbas Tak Hadir

Menurutnya, lokasi terdampak berada di kawasan perbukitan sehingga akses terhadap sumber air bersih menjadi lebih sulit saat musim kemarau.

P2BK bersama unsur TNI, Polri, Tagana, pemerintah desa, dan masyarakat setempat terus melakukan pemantauan sambil menunggu penyaluran bantuan air bersih bagi warga terdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *