METROSUKABUMI.com – Bantuan satu unit perahu karet lengkap dengan sepasang dayung dan pelampung dari Komando Armada Republik Indonesia (Koarmada RI) TNI Angkatan Laut menjadi solusi sementara bagi masyarakat yang terdampak putusnya Jembatan Gantung Leuwidinding di perbatasan Kecamatan Jampangtengah, Gunungguruh, dan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.
Perahu tersebut kini dimanfaatkan warga dan para pelajar untuk menyeberangi Sungai Cimandiri setelah jembatan penghubung itu ambruk diterjang banjir besar pada 28 Desember 2025.
Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah, mengapresiasi bantuan tersebut karena dinilai sangat membantu aktivitas masyarakat yang selama berbulan-bulan kehilangan akses utama.
Baca Juga : Kemarau Panjang Picu Krisis Air Bersih di Cicurug Sukabumi, 400 KK Terdampak Kekeringan
“Kami mengucapkan terima kasih. Perahu karet yang sebelumnya dari BPBD kini telah diganti dengan perahu baru dari Koarmada RI TNI AL. Bantuan ini sangat bermanfaat karena menjadi satu-satunya akses penyeberangan masyarakat setelah jembatan roboh,” ujar Dilah kepada wartawan, Sabtu (11/7).
Menurutnya, putusnya Jembatan Leuwidinding memaksa warga yang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat memutar melalui jalur alternatif yang jauh.
“Alternatifnya harus melewati jalan PT SCG, PT TSS, atau jalur irigasi. Jarak tempuhnya bisa mencapai hampir enam kilometer,” katanya.
Baca Juga : Api Berkobar di RSUD Sekarwangi Sukabumi, Begini Penjelasan Manajemen Rumah Sakit
Dilah menjelaskan, dampak putusnya jembatan tidak hanya dirasakan warga Desa Tanjungsari, tetapi juga masyarakat di sejumlah desa yang berada di tiga kecamatan.
“Di seberang merupakan Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah. Sementara di sisi lainnya terdapat Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, serta Desa Parakanlima, Kecamatan Cikembar. Total ada lima desa yang terdampak, yakni Tanjungsari, Parakanlima, Sirnaresmi, Sukamaju, dan Wangunreja,” jelasnya.
Sebelum jembatan putus, jalur tersebut menjadi akses utama masyarakat menuju kawasan industri di Kecamatan Cikembar hingga Kota Sukabumi.
“Banyak warga bekerja di GSI, Kino, pabrik bohlam, dan perusahaan lainnya di wilayah Cikembar. Sekarang mereka harus menyesuaikan akses penyeberangan,” ungkapnya.
Untuk kondisi darurat, terutama pelayanan kesehatan maupun ibu hamil yang membutuhkan rujukan, Pemerintah Desa telah menyiapkan ambulans desa dan berkoordinasi dengan pihak PT SCG agar akses perusahaan dapat digunakan selama 24 jam.
“Kalau keadaan darurat, pihak SCG membuka akses selama 24 jam. Kami juga menyiapkan ambulans desa agar pelayanan kesehatan tetap berjalan,” pungkas Dilah.












