Oleh: Azizah
BLITAR – Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, telah lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi tahu. Industri rumahan yang berkembang secara turun-temurun tersebut bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus sumber penghidupan bagi banyak tenaga kerja lokal.
Sebagian proses produksi tahu di Pakunden masih dilakukan secara tradisional. Namun, kondisi tersebut justru menjadi karakteristik sekaligus nilai ekonomi tersendiri. Proses pengolahan kedelai menjadi tahu yang dilakukan secara langsung oleh masyarakat bahkan berpotensi dikembangkan sebagai wisata edukasi bagi pelajar, mahasiswa, maupun wisatawan.
Di balik potensi tersebut, industri tahu Pakunden menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kenaikan harga kedelai impor pada 2025 hingga 2026, misalnya, memberikan tekanan terhadap biaya produksi. Pelaku usaha harus melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari menekan margin keuntungan, menyesuaikan ukuran produk, hingga melakukan efisiensi penggunaan bahan baku.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa UMKM lokal tidak sepenuhnya terlepas dari dinamika ekonomi global. Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat perubahan harga di pasar internasional dapat memberikan dampak langsung terhadap keberlangsungan usaha masyarakat.
Di tengah tantangan tersebut, digitalisasi dapat menjadi salah satu jalan keluar. Pemanfaatan media sosial, marketplace, layanan pesan antar, hingga pengemasan yang lebih modern dapat membantu produk tahu Pakunden menjangkau pasar yang lebih luas.
Transformasi tidak harus menghilangkan karakter tradisional yang selama ini menjadi identitas sentra tahu. Sebaliknya, tradisi tersebut dapat dikemas menjadi kekuatan dalam membangun branding produk lokal.
Pengembangan produk turunan berbahan dasar tahu juga dapat menjadi strategi untuk meningkatkan nilai tambah. Pelaku usaha tidak hanya menjual tahu dalam bentuk mentah, tetapi dapat mengembangkan berbagai produk olahan yang memiliki daya jual lebih tinggi.
Strategi Penguatan Industri Tahu Pakunden
Agar sentra industri tahu Pakunden mampu bertahan sekaligus berkembang, diperlukan langkah strategis dan kolaborasi berbagai pihak.
Pertama, penguatan literasi digital. Pelaku UMKM perlu mendapatkan pendampingan mengenai pemasaran melalui media sosial, marketplace, pembuatan katalog digital, hingga pengelolaan identitas merek.
Kedua, diversifikasi produk. Pengembangan produk olahan berbasis tahu dapat membuka sumber pendapatan baru sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Ketiga, kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha. Kolaborasi tersebut dapat diarahkan untuk membangun pusat inovasi UMKM berbasis pangan lokal, termasuk dalam hal teknologi produksi, pengemasan, pemasaran, dan pengembangan sumber daya manusia.
Keempat, penguatan koperasi atau kelompok usaha bersama. Kelembagaan yang kuat dapat meningkatkan daya tawar pelaku usaha dalam memperoleh bahan baku, mengakses permodalan, maupun memperluas jaringan pemasaran.
Kelima, pengembangan wisata industri tahu. Aktivitas produksi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dapat dikembangkan menjadi wisata edukasi ekonomi kreatif. Pengunjung tidak hanya membeli produk, tetapi juga memperoleh pengalaman dan pengetahuan mengenai proses pembuatan tahu.
Peran Strategis Kader HMI
Dalam konteks pembangunan daerah, kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki ruang strategis sebagai agent of change dan agent of empowerment.
Nilai keislaman dan keindonesiaan yang menjadi bagian dari identitas perjuangan HMI dapat diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat, termasuk penguatan UMKM lokal.
Salah satu bentuk kontribusi tersebut adalah pendampingan digitalisasi UMKM. Kader HMI dapat menjadi mitra masyarakat dalam memberikan pelatihan pemasaran digital, pengelolaan media sosial, pembuatan katalog produk, serta pemanfaatan marketplace.
Selain itu, HMI dapat mengambil peran dalam riset dan kajian kebijakan. Kajian mengenai ketergantungan bahan baku impor, fluktuasi harga kedelai, akses permodalan, hingga strategi pengembangan industri pangan lokal dapat menjadi bahan rekomendasi bagi pemerintah daerah.
Kader HMI juga dapat mendorong penguatan kewirausahaan generasi muda melalui program inkubasi bisnis berbasis pangan lokal. Regenerasi pelaku usaha menjadi penting agar industri tahu Pakunden tidak berhenti pada generasi saat ini.
Perhatian juga perlu diberikan kepada perempuan pelaku UMKM. Banyak perempuan terlibat dalam pengelolaan keuangan, pemasaran, hingga distribusi produk tahu. Pelatihan kepemimpinan, manajemen usaha, dan literasi keuangan dapat memperkuat posisi mereka dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga.
Lebih jauh, HMI dapat membangun kolaborasi pentahelix yang mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Kolaborasi tersebut diperlukan agar program pemberdayaan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan membentuk ekosistem UMKM yang berkelanjutan.
Dari Sentra Produksi Menjadi Ikon Ekonomi Lokal
Studi kasus sentra tahu Pakunden menunjukkan bahwa tantangan ekonomi global dapat memberikan dampak langsung terhadap masyarakat di tingkat lokal. Namun, tantangan tersebut sekaligus membuka ruang untuk melakukan transformasi.
Digitalisasi, inovasi produk, penguatan kelembagaan, pengembangan wisata edukasi, serta kolaborasi lintas sektor dapat menjadi fondasi bagi keberlanjutan industri tahu Pakunden.
Dalam konteks tersebut, kader HMI tidak cukup hanya hadir sebagai kelompok intelektual yang melakukan kajian. Lebih dari itu, kader HMI perlu hadir di tengah masyarakat sebagai penghubung antara pengetahuan, kebijakan, dan kebutuhan nyata pelaku UMKM.
Dengan pendampingan dan kolaborasi yang tepat, sentra tahu Pakunden berpeluang tidak hanya bertahan menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga berkembang menjadi ikon ekonomi rakyat Kota Blitar.
Transformasi digital bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru, teknologi dapat menjadi sarana untuk membawa potensi lokal agar dikenal lebih luas, memiliki nilai tambah lebih tinggi, dan mampu bertahan di tengah perubahan ekonomi.












