Satu RT di Cijambe Dikosongkan! Pergeseran Tanah Ancam 60 KK

60 KK Dievakuasi, 6 Tenda Darurat Didirikan BPBD

SUKABUMI – Bencana pergeseran tanah di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, terus meluas. Jika awalnya hanya lima rumah terdampak, kini hampir 15 rumah dinyatakan tidak layak huni. Bahkan, satu RT dengan sekitar 60 kepala keluarga (KK) terpaksa dikosongkan demi keselamatan.

Kepala Desa Bantargadung Uus Amrullah mengatakan, pergerakan tanah masih terjadi setiap hari sejak pertama kali terpantau. Kondisi tersebut membuat area terdampak kian melebar.

“Awalnya hanya lima rumah yang terdampak. Setelah saya pantau tiap hari, pergerakan tanah terus terjadi. Sekarang hampir 15 rumah sudah tidak layak dihuni. Satu RT kami kosongkan karena khawatir ada pergerakan susulan,” ujarnya, Sabtu (28/2).

Dari total 60 KK di RT tersebut, lebih dari 25 rumah terdampak langsung. Sisanya mengalami retakan pada dinding dan lantai bangunan. Bahkan, sejumlah rumah yang tergolong baru pun tak luput dari dampak.
“Rumah yang sebelumnya hanya retak kecil, sekarang kondisinya makin parah,” tambahnya.

Tak hanya permukiman warga, satu pondok pesantren di wilayah itu juga terdampak. Sekitar 20 santri dan santriwati untuk sementara dipindahkan ke rumah kerabat pimpinan pondok pesantren.
“Majelis sudah retak-retak. Hari ini saya minta pondok pesantren dikosongkan dulu karena takut ada pergerakan tanah susulan,” jelas Uus.

Baca juga : Hujan Lima Hari, 25 Rumah di Bantargadung Sukabumi Terdampak Pergeseran Tanah

Pemerintah desa bersama BPBD Kabupaten Sukabumi telah mendirikan enam tenda darurat di lokasi terdampak. Namun, belum semua warga menempatinya. Sebagian memilih mengungsi ke rumah saudara.
“Besok akan kami data lagi berapa keluarga yang akan tinggal di tenda,” katanya.

Dugaan sementara, pergeseran tanah dipicu kondisi lahan gundul di bagian atas permukiman warga. Lahan tersebut sebelumnya direncanakan untuk pembangunan peternakan sapi sejak 2012, tetapi belum terealisasi.

“Diduga karena kebun karet di atas sudah gundul dan tidak ada resapan air yang maksimal. Ada dua penampungan air, tapi tidak berfungsi dan kering. Sekarang musim hujan, kami khawatir air langsung mengalir ke pemukiman,” ungkapnya.

Menurut Uus, beberapa tahun lalu kejadian serupa pernah terjadi, namun skalanya tidak sebesar sekarang. Pihak desa berharap perusahaan yang berencana mengelola lahan tersebut segera membangun sistem resapan air yang memadai.

“Harapan kami, perusahaan membuat resapan air yang baik agar air tidak melimpah ke permukiman warga,” tegasnya.

Saat ini, pemerintah desa terus berkoordinasi dengan kecamatan dan instansi terkait untuk penanganan lanjutan serta mengantisipasi potensiakan tanah susulan di wilayah Cijambe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *