SUKABUMI – Bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, terus meluas. Data terbaru mencatat sebanyak 104 kepala keluarga (KK) atau 324 jiwa dalam satu RT terdampak peristiwa tersebut, Senin (2/3).
Pemerintah kecamatan pun bergerak cepat melakukan penanganan sekaligus pemetaan penyebab bencana. Camat Bantargadung, Rahmat Sarifudin, menyebut faktor curah hujan tinggi memang menjadi pemicu utama. Namun, kondisi lereng yang gundul memperparah situasi.
“Selain faktor curah hujan, kekuatan tanah juga sangat berpengaruh. Dari hasil pengecekan bersama porkofimcam ke lokasi paling atas, di lahan perkebunan perorangan hingga perbatasan perkebunan perusahaan, terlihat lereng dalam kondisi gundul. Tidak ada tanaman karena sudah terpotong habis,” ujarnya.
Menurut Rahmat, hilangnya vegetasi membuat tanah kehilangan daya ikat alami. Saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur, struktur tanah menjadi labil dan mudah bergerak. “Penggundulan itu turut mempengaruhi terjadinya pergerakan tanah di Kampung Cijambe,” tegasnya.
Baca Juga : Dapur MBG Disiapkan untuk Warga Terdampak Pergerakan Tanah Bantargadung Sukabumi
Di sisi lain, kebutuhan dasar warga terdampak masih menjadi perhatian. Hingga kemarin, dapur umum resmi belum berdiri di lokasi pengungsian yang berada di tenda darurat.
Pemkab melalui Dinas Sosial dan BPBD masih melakukan asesmen untuk menentukan apakah kondisi tersebut masuk kategori darurat bencana. Jika dinyatakan darurat, maka surat keputusan (SK) bupati akan diterbitkan sebagai dasar pendirian dapur umum resmi.
“Dari Dinsos dan BPBD akan melakukan penilaian terlebih dahulu. Jika dinyatakan darurat, SK bupati akan ditandatangani dan dapur umum resmi didirikan,” jelas Rahmat.

Sambil menunggu keputusan tersebut, kecamatan berinisiatif menggandeng dapur SPPG Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai solusi sementara. Terlebih, warga tengah menjalani ibadah Ramadan dan kesulitan memenuhi kebutuhan sahur maupun berbuka.
“Warga menyampaikan kesulitan untuk berbuka puasa dan sahur. Maka kami upayakan kerja sama dengan dapur SPPG MBG agar bisa difungsikan sementara,” katanya.
Untuk mengaktifkan layanan dapur SPPG MBG, dibutuhkan data rinci warga terdampak secara by name by address. Saat ini, pemerintah desa bersama kecamatan masih melakukan pendataan lanjutan.
Data sementara baru mencatat jumlah KK dan total jiwa. Rincian kategori usia, termasuk anak-anak, masih dalam proses input. Sejauh ini tercatat satu bayi berada di lokasi terdampak.
“Kami baru mendata jumlah KK. Untuk rincian jumlah anak-anak dan kategori lainnya masih dalam proses,” pungkasnya.
Pemerintah Kecamatan Bantargadung memastikan koordinasi lintas instansi terus dilakukan agar kebutuhan dasar warga terdampak pergerakan tanah di Cijambe tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.










