SUKABUMI — Bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, memaksa ratusan warga meninggalkan rumahnya. Hingga kini, 269 jiwa dari 76 kepala keluarga (KK) masih bertahan di tenda pengungsian dan bangunan sekolah yang dijadikan tempat penampungan sementara.
Di tengah kondisi darurat, dapur umum di posko pengungsian mulai dikebut untuk memastikan kebutuhan makan para korban tetap terpenuhi. Setiap hari, petugas memasak hingga 1.000 porsi makanan untuk para pengungsi, terutama untuk kebutuhan sahur dan berbuka puasa.
Bencana yang terjadi di bulan Ramadan ini membuat dapur umum menjadi tumpuan utama warga yang terdampak.
Data di posko pengungsian menunjukkan, sebagian besar pengungsi merupakan kelompok rentan. Di antaranya 8 bayi, 30 balita, 34 lansia, 11 ibu menyusui, serta 2 penyandang disabilitas.
Baca Juga : Bupati Sukabumi Tetapkan Tanggap Darurat Bencana Bantargadung, Berlaku 7 Hari
Para pengungsi saat ini tersebar di beberapa titik penampungan. Sebagian tinggal di tenda darurat yang didirikan di sekitar lokasi bencana, sementara lainnya menempati ruang kelas sekolah yang disulap menjadi tempat pengungsian sementara.
Aktivitas dapur umum berlangsung hampir tanpa henti. Sejak pagi hingga menjelang malam, relawan bersama petugas bergotong royong menyiapkan bahan makanan, memasak, hingga mendistribusikan makanan ke para pengungsi.
Bencana pergerakan tanah di kawasan Cijambe sendiri membuat puluhan rumah warga terancam. Retakan tanah yang terus meluas memaksa warga mengungsi demi keselamatan.
Hingga saat ini, pemerintah daerah bersama tim kebencanaan masih melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi tanah di lokasi bencana. Warga pun diminta tidak kembali ke rumah sebelum situasi benar-benar dinyatakan aman.
Sementara itu, bantuan dari berbagai pihak mulai berdatangan untuk membantu kebutuhan logistik para pengungsi yang masih bertahan di posko.










