METROSUKABUMI.com – Kemunculan seekor macan kumbang di permukiman warga kembali menggegerkan Kabupaten Sukabumi. Satwa liar yang dilindungi itu sempat terjerat perangkap babi hutan di Kampung Cikurutug, Desa Cirendang, Kecamatan Cikakak, sebelum akhirnya berhasil melepaskan diri sesaat sebelum petugas melakukan pembiusan.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis (2/7) itu berlangsung di luar kawasan taman nasional, tepatnya di area perkebunan yang berbatasan dengan permukiman warga. Video keberadaan macan berwarna hitam tersebut pun viral di media sosial dan memicu kepanikan masyarakat.
Menurut keterangan warga, jerat yang dipasang awalnya ditujukan untuk menghalau babi hutan yang kerap merusak lahan pertanian. Namun, tanpa diduga justru mengenai macan kumbang yang diduga sedang mengincar ternak milik warga.
“Jerat itu sebenarnya dipasang untuk babi hutan. Kemungkinan macan sedang melintas atau mengincar ternak sehingga akhirnya terkena jerat,” ujar Andri Firmansyah, warga setempat.
Mendapat laporan tersebut, petugas konservasi langsung menuju lokasi dan menyiapkan proses evakuasi menggunakan senapan bius demi menghindari risiko bagi satwa maupun warga.
Baca Juga : Evakuasi Kecelakaan Beruntun di Jembatan Sekarwangi Cibadak, Antrean Kendaraan Mengular Dua Arah
Namun, rencana itu gagal dilakukan. Tepat sebelum peluru bius ditembakkan, macan kumbang berontak hingga jerat terlepas dan langsung melarikan diri menuju kawasan hutan di Gunung Koneng.
“Petugas sebenarnya sudah bersiap melakukan pembiusan. Tapi macannya lebih dulu berhasil lepas dan kabur ke arah gunung,” kata Andri.
Warga mengungkapkan kemunculan macan kumbang maupun macan tutul di wilayah perbatasan hutan bukanlah kejadian baru. Setiap musim kemarau, satwa predator tersebut kerap turun mendekati permukiman karena diduga kesulitan mendapatkan mangsa di habitat alaminya.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah ternak dan anjing peliharaan warga juga dilaporkan hilang dan diduga menjadi mangsa satwa liar tersebut.
Masyarakat diimbau tetap waspada, tidak mendekati satwa liar apabila kembali terlihat, serta segera melaporkan kepada petugas konservasi agar penanganan dapat dilakukan secara aman tanpa memicu konflik antara manusia dan satwa.












