Puluhan Jembatan Putus Akibat Bencana, Jembatan Gantung Leuwidinding Kini Dibangun

Wakasal Laksamana Madya TNI Edwin bersama Bupati Sukabumi Asep Japar dan sejumlah pihak melakukan peletakan batu pertama pembangunan Jembatan Gantung Leuwidinding yang menghubungkan Desa Tanjungsari dan Desa Sirnasari, Minggu (6/9/2026). (Foto : Ikbal BK/Metrosukabumi.com).

METROSUKABUMI.com –  Harapan warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, dan Desa Sirnasari, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, untuk kembali memiliki akses penghubung yang memadai mulai menemui titik terang.

Pembangunan Jembatan Gantung Leuwidinding resmi dimulai setelah dilakukan peletakan batu pertama, Minggu (6/9/2026).

Peletakan batu pertama dilakukan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Edwin bersama jajaran pejabat Koarmada TNI AL, Bupati Sukabumi Asep Japar, Direktur Utama PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk Muhammad Yusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun, serta General Manager CT ARSA Foundation.

Jembatan tersebut akan menjadi akses penghubung bagi masyarakat di dua desa dan dua kecamatan yang selama ini terdampak kerusakan infrastruktur akibat bencana.

Wakasal Laksamana Madya TNI Edwin mengatakan, pembangunan jembatan gantung yang membentang di atas aliran Sungai Cimandiri dengan lebar sekitar 40 meter tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara TNI AL, CT ARSA Foundation, pemerintah daerah, pihak swasta, dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Menurutnya, kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Tugas kami sebagai prajurit Jala Sena juga akan menggandeng seluruh pihak untuk memberikan bakti terbaik kita, untuk mengurangi beban-beban yang ada di masyarakat,” kata Edwin kepada awak media.

Edwin mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterimanya dari Pemkab Sukabumi, bencana alam yang terjadi sepanjang 2024 hingga 2025 menyebabkan puluhan jembatan mengalami kerusakan bahkan terputus.

“Di Kabupaten Sukabumi, tadi kami dapat laporan dari Bapak Bupati, bencana tahun 2024–2025 itu ada 47 jembatan yang terputus,” ujarnya.

Ia menyebut pembangunan Jembatan Gantung Leuwidinding menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi untuk menyelesaikan persoalan infrastruktur yang berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.

Dalam kondisi sebelumnya, akses di sekitar Jembatan Leuwidinding hanya dapat dilintasi kendaraan roda dua. Kondisi tersebut membuat mobilitas masyarakat menjadi terbatas.

Bahkan, setelah bencana pada Desember 2024, masyarakat harus memanfaatkan perahu karet bantuan TNI AL untuk mendukung mobilitas melintasi sungai.

Namun, penggunaan perahu karet dinilai belum menjadi solusi jangka panjang karena kapasitas dan penggunaannya terbatas.

Dengan dibangunnya kembali Jembatan Gantung Leuwidinding, Edwin berharap aktivitas masyarakat dari kedua desa dapat kembali berjalan normal.

Yang tak kalah penting, pembangunan jembatan tersebut ditargetkan berlangsung sekitar 105 hari.

“Insyaallah mudah-mudahan dengan selesainya pembangunan jembatan ini kurang lebih 105 hari, bisa kita selesaikan di Desember 2026. Mudah-mudahan ini dimanfaatkan oleh masyarakat bersama-sama,” jelasnya.

Edwin juga membuka peluang kolaborasi serupa untuk pembangunan maupun perbaikan infrastruktur lain yang dibutuhkan masyarakat.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan masukan terkait berbagai persoalan infrastruktur di wilayahnya sehingga dapat dikolaborasikan dengan pihak swasta maupun stakeholder lainnya.

“Ke depannya kita juga butuh masukan-masukan dari pihak pemerintah untuk kita kolaborasikan dengan pihak-pihak swasta. Kita bersama-sama menyelesaikan problem-problem dampak dari situasi yang ada, ataupun kita bisa membangun jembatan yang baru untuk kebutuhan masyarakat,” tandasnya. (Bakar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *