METROSUKABUMI.com – Sudah tiga pekan terakhir ratusan warga di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, harus berjuang mendapatkan air bersih. Sebanyak 315 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Cibadak dan Desa Sekarwangi terdampak setelah sumur-sumur warga mengering.
Penyebabnya bukan semata musim kemarau. Krisis air bersih juga dipicu ditutupnya aliran Irigasi Cisekarwangi yang tengah menjalani perbaikan di Kampung Sindangresmi, Desa Karangtengah. Selama ini, air tanah di permukiman warga bergantung pada resapan dari saluran irigasi tersebut.
Akibat penghentian sementara aliran air, cadangan air tanah ikut menyusut hingga hampir seluruh sumur gali milik warga tidak lagi mengeluarkan air.
Kondisi itu membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi bersama Relawan Rumah Zakat kembali menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak, Kamis (2/7/2026).
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD mengerahkan dua mobil tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Distribusi bantuan juga telah dilakukan beberapa kali karena kebutuhan masyarakat masih tinggi.
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cibadak, Mawaldi, mengatakan dampak kekeringan tidak hanya dirasakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi mulai mengancam sektor pertanian dan perikanan.
“Sumur warga sudah tidak mengeluarkan air. Sawah, kebun, hingga kolam ikan juga mulai terdampak kekeringan,” ujarnya.
Ketua RW 21 Kelurahan Cibadak, Ucup, menjelaskan wilayahnya selama ini tidak memiliki sumur bor. Warga sepenuhnya bergantung pada sumur gali yang memperoleh pasokan air dari resapan Irigasi Cisekarwangi.
Saat aliran irigasi dihentikan sementara karena pekerjaan perbaikan, sumber resapan ikut hilang sehingga sumur-sumur warga mengering dalam waktu singkat.
“Selama ini kami hanya mengandalkan sumur gali. Ketika irigasi ditutup untuk perbaikan, air di sumur warga langsung habis. Hampir seluruh warga kini kesulitan mendapatkan air bersih,” katanya.
BPBD Kabupaten Sukabumi mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat selama musim kemarau. Pemantauan juga terus dilakukan di sejumlah wilayah lain yang berpotensi mengalami krisis air bersih apabila kemarau berlangsung lebih lama.












