METROSUKABUMI.com – Program pembinaan di Lapas tak lagi sekadar soal hukuman. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjen PAS) Jawa Barat turun langsung ke Lapas Kelas IIA Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. Fokusnya jelas: memastikan program ketahanan pangan hingga bedah rumah benar-benar berdampak nyata bagi warga binaan dan masyarakat sekitar.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penguatan program pembinaan berbasis kemandirian yang kini digencarkan di lingkungan pemasyarakatan.
Di Lapas Warungkiara, program ketahanan pangan menjadi salah satu unggulan. Lahan seluas sekitar 7 hektare dimanfaatkan untuk kegiatan agribisnis produktif. Berbagai komoditas ditanam, mulai dari pisang, cabai, tomat, hingga terong dan tanaman hortikultura lainnya.
Program ini tak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan yang bisa dimanfaatkan saat kembali ke masyarakat.
Selain sektor pangan, perhatian juga diarahkan pada program sosial. Salah satunya adalah kegiatan bedah rumah bagi warga kurang mampu di sekitar wilayah Warungkiara. Program ini menjadi bentuk nyata sinergi antara Lapas dan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial.
Kepala Lapas Warungkiara, Kurnia Panji Pamekas, menegaskan bahwa berbagai program tersebut merupakan bagian dari upaya menciptakan pembinaan yang produktif dan berkelanjutan.
“Optimalisasi lahan dan kegiatan sosial ini adalah wujud kontribusi pemasyarakatan dalam mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya itu, bantuan sosial juga turut disalurkan kepada masyarakat dan keluarga warga binaan. Bantuan berupa kebutuhan pokok hingga dukungan usaha kecil diberikan untuk mendorong kemandirian ekonomi.
Program ini sejalan dengan kebijakan nasional Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang mendorong peningkatan kualitas pembinaan berbasis kemandirian.
Melalui kunjungan tersebut, Kakanwil Ditjen PAS Jabar memastikan seluruh program berjalan optimal, sekaligus mendorong agar inovasi pembinaan terus dikembangkan.












