Metode Stripping Berhasil, Kelompok Binaan Star Energy Geothermal Sukabumi Hasilkan 3.000 Anakan Ikan Torsoro

Kelompok Hikamuci binaan Star Energy Geothermal Salak Ltd menunjukkan anakan ikan Torsoro hasil pemijahan buatan (stripping) di Desa Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. (Foto : Istimewa).

METROSUKABUMI.com – Upaya pelestarian ikan Torsoro di Kabupaten Sukabumi membuahkan hasil menggembirakan. Kelompok Hikamuci (Himpunan Kawula Muda Cipanas) binaan Star Energy Geothermal Salak Ltd berhasil menghasilkan sekitar 3.000 ekor anakan ikan Torsoro melalui teknik pemijahan buatan atau stripping.

Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting dalam konservasi ikan Torsoro, spesies ikan air tawar endemik yang populasinya terus menurun akibat kerusakan habitat dan kemampuan berkembang biak yang relatif lambat.

Ketua Kelompok Hikamuci, Ujang Dimyati, mengatakan keberhasilan tersebut diperoleh setelah kelompok menerapkan metode stripping terhadap enam indukan betina.

“Kelompok telah berhasil melakukan metode stripping terhadap enam indukan betina Torsoro. Setiap indukan menghasilkan sekitar 400 hingga 500 ekor anakan,” ujar Ujang di Desa Kabandungan, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.

Baca Juga : Hasil Pilkades PAW Desa Cibolang: Yusuf Taojiri Unggul Telak, Resmi Jadi Kades hingga 2030

Ikan Torsoro yang dikenal pula sebagai ikan Dewa atau Kancra merupakan ikan endemik yang hidup di perairan pegunungan berarus deras. Pertumbuhan yang lambat, jumlah telur yang sedikit, serta rusaknya habitat alami membuat populasi ikan ini semakin terancam di alam liar.

Kelompok Hikamuci yang beranggotakan tujuh petani lokal sebenarnya telah dibentuk sejak 2017 sebagai bagian dari program konservasi. Namun aktivitas kelompok sempat terhenti akibat pandemi COVID-19 sehingga berbagai program pelestarian tidak berjalan optimal.

Sejak 2023, Star Energy Geothermal Salak Ltd kembali melakukan pendampingan secara bertahap melalui program pemberdayaan masyarakat. Pendampingan diawali dengan pemetaan potensi, penguatan kelembagaan kelompok, hingga penyusunan strategi pengembangan konservasi.

Selain memperbaiki infrastruktur kolam, perusahaan juga memberikan bantuan bibit ikan Torsoro, pelatihan budidaya, pengembangan pakan berbasis maggot yang lebih efisien, serta studi banding untuk meningkatkan kapasitas anggota kelompok.

Budidaya ikan tor soro. (Foto : Instagram)

Salah satu tantangan terbesar dalam konservasi ikan Torsoro adalah proses reproduksi yang sebelumnya hanya mengandalkan pemijahan alami. Kondisi tersebut membuat peningkatan populasi berlangsung sangat lambat.

Melalui pelatihan teknik stripping, proses pemijahan kini dapat dilakukan secara lebih terkontrol. Hasilnya, dari tiga kali percobaan pada 2026, setiap indukan mampu menghasilkan 400 hingga 500 larva dengan tingkat kelangsungan hidup sekitar 65 persen selama tiga minggu pertama masa pemeliharaan.

Ke depan, Kelompok Hikamuci menargetkan metode stripping dilakukan secara rutin setiap bulan untuk meningkatkan populasi ikan Torsoro.

Anakan yang telah mencapai ukuran tertentu akan dipindahkan ke kolam pembesaran. Sebagian di antaranya akan digunakan untuk program restocking atau penebaran kembali ke habitat aslinya sebagai upaya memulihkan populasi ikan Torsoro di alam sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan.

Baca Juga : Gegerkan Warga Cikakak, Macan Kumbang Terjerat Lalu Kabur Sebelum Dibius

Tak hanya fokus pada konservasi, sejak 2025 kawasan kolam Hikamuci juga dikembangkan sebagai sentra budidaya ikan nila dan ikan emas. Dua komoditas tersebut menjadi sumber pendapatan kelompok sehingga program konservasi dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.

Social Investment Specialist Star Energy Geothermal Salak Ltd, Haris Nur Azhar, mengatakan pengembangan budidaya ikan komersial merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Star Energy Geothermal sebagai bagian dari Barito Pacific menilai upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan sehingga mendukung keberlanjutan program konservasi di tingkat lokal. CSR ini merupakan bukti nyata bahwa pengembangan panas bumi bisa berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Komitmen tersebut juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pada April 2026, Star Energy Geothermal menerima penghargaan atas kontribusinya dalam mendukung program pembangunan Jawa Barat sepanjang 2025.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pemprov Jabar, khususnya Pak Gubernur KDM atas apresiasi yang diberikan. Kami berkomitmen untuk terus memberikan manfaat lebih kepada masyarakat Jawa Barat melalui praktik pengembangan geothermal berkelanjutan maupun kegiatan CSR kami,” tutup Haris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *