METROSUKABUMI.com – Suara gemericik air menyelinap di antara rimbunnya bambu dan pepohonan mahoni. Udara dingin menyapu wajah, seolah menyambut setiap langkah yang menapaki jalan setapak menuju sebuah keindahan tersembunyi: Curug Mawi di Desa Warnajati, Kecamatan Cibadak.
Tak banyak yang tahu, di balik hiruk pikuk aktivitas kota kecil Cibadak, tersimpan “hidden gem” yang masih perawan. Curug Mawi bukan sekadar air terjun, ia adalah potret keaslian alam yang belum tersentuh masifnya pariwisata.
Perjalanan menuju lokasi memang bukan tanpa usaha. Dari kawasan Jembatan Pamuruyan, pengunjung harus menyusuri jalan menuju area perkebunan hingga berjalan kaki menembus hamparan sawah dan pepohonan rindang. Namun lelah itu terbayar lunas saat tirai air jernih menyambut di ujung perjalanan.
Di sinilah letak daya tariknya. Curug Mawi bukan tempat wisata instan. Ia menghadirkan pengalaman tentang perjalanan, kesunyian, dan kedekatan dengan alam.
Yang membuat Curug Mawi berbeda bukan hanya lanskapnya, tetapi cerita di baliknya.
Air terjun ini pernah nyaris terlupakan. Nama “Mawi” sendiri diambil dari sosok warga yang dulu merawat kawasan tersebut. Setelah ia tiada, tempat ini sempat terbengkalai hingga akhirnya sekelompok pemuda desa bergerak.
Baca Juga: Ribuan Buruh Sukabumi Berangkat ke Monas Dikawal Ketat Polisi, Kapolres: Jaga Ketertiban!
Dengan semangat gotong royong, mereka membersihkan aliran sungai, membuka akses jalan, hingga mengedukasi masyarakat agar tidak menjadikan sungai sebagai tempat sampah.
Tak ada sponsor besar. Tak ada proyek megah. Hanya kepedulian sederhana yang menjaga Curug Mawi tetap hidup.
Eksotisme yang Masih Perawan
Berbeda dengan banyak curug populer di Sukabumi, Curug Mawi masih sepi. Justru di situlah pesonanya.
Airnya jernih, bebatuan alami masih terjaga, dan suara alam mendominasi tanpa gangguan. Bahkan, suasana yang ditawarkan sering disebut sebagai “kemewahan dalam kesederhanaan” sesuatu yang mulai langka di tengah tren wisata massal.
Kabupaten Sukabumi sendiri dikenal sebagai salah satu “surga curug” dengan ratusan air terjun tersebar di berbagai wilayah. Namun Curug Mawi menawarkan pengalaman yang lebih intim dan personal.
Baca Juga: Tak Demo, Buruh Sukabumi Rayakan May Day di Waterpark, Wabup Andreas Bicara Investasi
Di balik keindahannya, Curug Mawi menyimpan dua sisi. Potensi wisata yang besar, namun juga tantangan serius.
Akses yang masih terbatas dan minimnya fasilitas membuatnya belum ramah untuk semua kalangan. Di sisi lain, jika dikembangkan tanpa kontrol, justru berisiko merusak keasriannya.
Di titik ini, peran masyarakat menjadi krusial. Menjaga keseimbangan antara membuka akses wisata dan mempertahankan kelestarian alam adalah pekerjaan rumah bersama.
Curug Mawi bukan hanya destinasi. Ia adalah pengingat.
Bahwa keindahan alam tidak selalu butuh kemewahan. Bahwa kepedulian kecil bisa berdampak besar. Dan bahwa generasi muda bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga warisan lingkungan.
Di tengah gempuran destinasi viral, Curug Mawi tetap memilih sunyi dan justru di sanalah ia menemukan pesonanya.












