4 Anak Korban Eksploitasi di Solo Segera Dipulangkan, DP3A Sukabumi Siapkan Pendampingan Psikologis

Dp3a kabupaten Sukabumi
Kantor DP3A Kabupaten Sukabumi. (Foto : Dok. Metrosukabumi.com)

METROSUKABUMI.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi mulai berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk menindaklanjuti pemulangan empat anak asal Sukabumi yang diduga menjadi korban eksploitasi di Solo, Jawa Tengah.

Koordinasi dilakukan bersama Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Provinsi Jawa Barat. Langkah tersebut ditempuh untuk memastikan proses pemulangan korban berjalan sesuai mekanisme perlindungan anak lintas provinsi.

Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi, mengatakan pihaknya masih menunggu kepastian mengenai keberadaan para korban serta proses koordinasi antarlembaga yang menangani pemulangan mereka.

“Untuk korban ini kami DP3A akan melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan UPTD PPA provinsi karena pemulangan dari Provinsi Jawa Tengah, jadi yang menangani adalah UPTD PPA provinsi,” kata Agus saat dikonfirmasi, Rabu (28/10/2026).

Baca Juga : Dijanjikan Jadi ART, 4 Anak Asal Sukabumi Malah Jadi Korban Eksploitasi di Solo

Agus menjelaskan, mekanisme pemulangan korban dari luar provinsi umumnya dilakukan oleh UPTD PPA tingkat provinsi. Setelah korban berada dalam penanganan UPTD PPA Provinsi Jawa Barat, DP3A Kabupaten Sukabumi akan melanjutkan pendampingan sesuai kebutuhan.

“Bila sudah ada di UPTD PPA provinsi, kami selanjutnya akan menangani korban berupa pendampingan psikolog dan bila ada indikasi ke ranah hukum, kami juga akan mendampingi,” ujarnya.

Menurut Agus, pendampingan psikologis tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Tim perlu terlebih dahulu melihat kondisi masing-masing anak setelah proses pemulangan agar penanganan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan korban.

“Untuk pendampingan psikologi dilihat dulu kondisi korban, jadi mungkin butuh waktu beberapa hari setelah pemulangan,” jelasnya.

Baca Juga : Kasus Dugaan Pelecehan Siswi SD di Cibadak Memanas, DP3A Sukabumi Jawab Kritik LKBHMI

DP3A Kabupaten Sukabumi juga akan berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) untuk mendukung penanganan kasus tersebut.

Koordinasi lintas sektor dinilai penting, terutama untuk memastikan perlindungan terhadap anak sekaligus menelusuri kemungkinan adanya unsur pelanggaran hukum dalam kasus yang menimpa para korban.

Pencegahan Eksploitasi Anak Diperkuat

Selain penanganan terhadap empat anak tersebut, Agus menyebut DP3A Kabupaten Sukabumi telah menjalankan sosialisasi mengenai Kekerasan, Eksploitasi, dan Diskriminasi (KED), termasuk melalui lingkungan sekolah.

“Tahun ini kalau tidak salah ada 10 sekolah tingkat SLTP yang menjadi sasaran penyebaran informasi melalui sekolah,” ungkapnya.

Baca Juga : Warga Tak Mampu Masuk Desil Atas, Zainul Munasichin Soroti Akurasi Data Bantuan

Menurut Agus, upaya pencegahan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari sekolah, keluarga, pemerintah daerah, hingga instansi terkait. Edukasi kepada anak dan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap tawaran pekerjaan yang berpotensi menjerumuskan anak ke dalam situasi berbahaya.

Sebelumnya, empat anak asal Sukabumi dilaporkan menjadi korban dugaan eksploitasi setelah dijanjikan bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Solo, Jawa Tengah.

Kasus ini menjadi perhatian karena berkaitan dengan perlindungan anak dari praktik perekrutan yang berujung pada dugaan eksploitasi. Penanganan selanjutnya diharapkan tidak hanya berfokus pada pemulangan, tetapi juga pemulihan kondisi psikologis serta pemenuhan hak-hak para korban.

Hingga Kamis (29/10/2026), DP3A Kabupaten Sukabumi masih berkoordinasi dengan UPTD PPA Provinsi Jawa Barat untuk memastikan status penanganan dan keberadaan para korban. Informasi lebih lanjut mengenai identitas korban maupun perkembangan penanganan akan menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang.

Catatan Redaksi : Demi melindungi anak, identitas korban dan informasi rinci yang berpotensi mengungkap jati diri maupun lokasi mereka tidak dicantumkan dalam pemberitaan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *