Uji Klaim Ilmu Laduni Berujung Dugaan Pengeroyokan, Pimpinan Ponpes Tempuh Jalur Hukum

Buntut dugaan pengeroyokan di sebuah padepokan di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Pimpinan Ponpes Lapor Polsek Ciracap. (Foto : Istimewa)

METROSUKABUMI.com – Pertemuan untuk menguji klaim ilmu batin di sebuah padepokan di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, berujung dugaan penganiayaan dan pengeroyokan. Insiden yang terekam dalam video dan viral di media sosial itu kini dilaporkan ke kepolisian oleh pimpinan pondok pesantren (ponpes).

Pelapor adalah Iskandar Abdul Jabar (28), pimpinan Pondok Pesantren Asakandary di Kecamatan Surade. Ia melaporkan dugaan penganiayaan dan pengeroyokan yang dialaminya saat mendatangi Padepokan Al Baathin Al Waliyy Indonesia Cabang Sukabumi di Kampung Ciheas, Desa/Kecamatan Ciracap.

Kapolsek Ciracap AKP Taufick Hadian membenarkan pihaknya telah menerima laporan terkait peristiwa tersebut pada Minggu (25/10/2026). Insiden itu sendiri terjadi pada Rabu (21/10/2026).

“Pada hari ini, Minggu (25/10/2026) sekitar pukul 15.00 WIB, kami telah menerima laporan dugaan penganiayaan dan pengeroyokan. Kejadian berlangsung pada Rabu (21/10/2026) dan videonya viral,” ujar Taufick.

Baca Juga : Kisruh Fee Komitmen Dapur MBG Nagrak Memanas, Pengelola Bantah Pakai Legalitas Mutiara Qolbu

Ia menyebutkan perkara tersebut selanjutnya akan dilimpahkan ke Polres Sukabumi untuk penanganan lebih lanjut.

Berawal dari Keinginan Menguji Klaim Ilmu Laduni

Iskandar menjelaskan, kedatangannya bersama seorang rekan ke padepokan tersebut dilandasi keinginan untuk bertabayun sekaligus menguji klaim keilmuan spiritual yang dikenal sebagai Ilmu Laduni Karomah.

Menurut Iskandar, ketertarikannya muncul setelah melihat unggahan di media sosial yang memperlihatkan atraksi keilmuan, termasuk klaim tubuh menjadi kebal atau lawan mengalami kekakuan ketika dipukul.

Ia mengaku ingin menguji klaim tersebut secara langsung untuk memperoleh kejelasan mengenai kebenarannya.

“Motivasi saya kan ingin mengetes kebenaran. Kebenaran tentang yang mengatasnamakan ilmu Laduni Karomah. Karena bagi kami para santri, bahwa karomah ataupun laduni itu sangat berat,” kata Iskandar.

Baca Juga : Sopir Toyota Rush Penabrak 5 Pejalan Kaki di Parungkuda Diamankan, Satu Orang Tewas

Namun, menurut keterangannya, pembicaraan di lokasi tidak berjalan sesuai harapan. Ia mengaku ingin berdiskusi dan bermusyawarah, tetapi situasi kemudian memanas.

“Begitu saya datang ingin diskusi ataupun musyawarah dan membuktikan kebenaran ilmu laduni tersebut tanpa basa-basi, ketua padepokan bilang ilmu ini tidak dapat didiskusikan. Dan pada akhirnya dia langsung mukul saya,” ungkapnya.

Iskandar menuturkan, pukulan pertama mengenai bagian rahangnya. Ketika ia berdiri untuk menjelaskan maksud kedatangannya, seorang anggota padepokan lainnya diduga kembali melayangkan pukulan ke bagian pipi.

Ia mengaku sempat melakukan perlawanan hingga salah satu pihak terjatuh. Iskandar menyatakan mengalami luka gores di tangan sebelum akhirnya meninggalkan lokasi.

Keterangan tersebut merupakan penuturan Iskandar. Rangkaian kejadian dan dugaan keterlibatan masing-masing pihak masih perlu diuji melalui proses hukum.

Tangkapan layar video viral keributan di padepokan Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. (Foto : Istimewa)

Sementara itu, pimpinan Padepokan Al Baathin Al Waliyy Indonesia Cabang Sukabumi, Tabib Jalil, memberikan penjelasan berbeda mengenai latar belakang kedatangan Iskandar.

Jalil menyebut persoalan tersebut berawal dari aktivitas di media sosial. Menurut dia, Iskandar sebelumnya menyampaikan tantangan untuk menjadi penguji atau tester ilmu batin.

“Beliau menantang ingin menjadi tester di akun Facebook-nya, namun kami tidak meresponsnya dan tidak menanggapi,” kata Jalil pada media.

Ia juga membantah pihak padepokan secara khusus mengundang Iskandar. Menurut Jalil, kedatangan pria tersebut merupakan inisiatif sendiri setelah muncul pembicaraan di media sosial.

Baca Juga : Dua Insiden KA Pangrango dalam Sehari di Sukabumi, Satu Korban Tewas

Jalil menjelaskan padepokannya memiliki aturan dan kode etik perguruan. Ia juga menyatakan akan mempertimbangkan langkah hukum untuk menjaga nama baik lembaganya menyusul adanya laporan terhadap pihaknya.

“Kaitan ada pelaporan, tentunya kami juga akan balik melaporkan demi menjaga marwah perguruan,” ujarnya.

Perbedaan keterangan antara Iskandar dan Jalil tersebut menjadi bagian penting yang perlu didalami penyidik untuk memastikan kronologi serta peran masing-masing pihak dalam insiden yang terjadi.

Polisi Sempat Memfasilitasi Mediasi

Sebelum laporan resmi diterima, polisi bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Ciracap telah berupaya memfasilitasi mediasi antara kedua pihak.

Namun, menurut Kapolsek Ciracap, salah satu pihak menyatakan ingin menempuh jalur hukum.

Baca Juga : Dana Proyek Desa Diduga Ludes untuk Judi Online, Eks Kades Sukabumi Divonis 3 Tahun

“Betul ada kejadian video di padepokan yang ada di Kecamatan Ciracap,” kata Taufick saat mengonfirmasi peristiwa tersebut.

Taufick juga mengimbau masyarakat agar menyikapi kejadian itu secara bijak dan tidak menyebarkan pernyataan provokatif di media sosial. Imbauan tersebut disampaikan untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.

Iskandar menyatakan memilih jalur hukum untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Ia mengaku khawatir polemik yang berkembang dapat memicu reaksi dari kalangan santri dan organisasi yang memiliki hubungan dengannya.

“Upaya saya sekarang, demi menaati hukum karena ini negara hukum. Andaikan tidak ada laporan kepada pihak yang berwajib, maka yang saya khawatirkan terjadi gejolak massa,” ujarnya.

Ia mengatakan para santri yang memberikan dukungan tetap diarahkan agar situasi tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.

Iskandar juga mengapresiasi langkah kepolisian dalam menangani laporan tersebut dan berharap perkara diproses sesuai ketentuan hukum.

Respon (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *