METROSUKABUMI.com – Dualisme kepemimpinan DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Sukabumi belum menemukan titik terang. Pertemuan antara kubu Yandra dan kubu Gilang di Pendopo Palabuhanratu, Rabu (28/10/2026), kembali berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan.
Kondisi tersebut menuai sorotan dari kalangan pengurus KNPI tingkat kecamatan. Mereka berharap polemik yang telah membelah organisasi kepemudaan itu segera menemukan jalan penyelesaian.
Ketua PK KNPI Waluran, Rizal, mempertanyakan mengapa dualisme kepengurusan KNPI Kabupaten Sukabumi hingga kini belum juga terselesaikan.
“Persoalan ini memunculkan pertanyaan mendasar, mengapa KNPI Kabupaten Sukabumi bisa terbelah menjadi dua kepengurusan, dan mengapa hingga sekarang belum ada penyelesaian yang mampu menyatukan keduanya,” ujar Rizal
Baca Juga : KAHMI Sukabumi Dorong Perda Anti-LGBTQ, DPRD Kota Disebut Siap Usulkan Raperda
Menurutnya, dualisme organisasi bukan sekadar persoalan perbedaan kepengurusan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kebingungan di kalangan organisasi kepemudaan, baik di tingkat kabupaten maupun kecamatan.
Terlebih, ketika kedua kelompok sama-sama mendapatkan ruang dan diakomodasi oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), diperlukan kejelasan sikap dan mekanisme penyelesaian yang bisa menjadi rujukan bersama.
Hal senada disampaikan Ketua PK KNPI Kalibunder, Eris Santosa. Dia menilai Forkopimda memiliki posisi strategis dalam menjaga kondusivitas daerah, sehingga perlu mendorong penyelesaian yang konkret.
“Forkopimda tentu memiliki posisi strategis dalam menjaga kondusivitas daerah. Karena itu, pendekatan terhadap kedua kubu perlu diarahkan pada penyelesaian yang konkret, bukan sekadar mengakomodasi keduanya tanpa kejelasan mengenai langkah akhir rekonsiliasi,” ungkap Eris.
Baca Juga : Gagal Kabur Usai Diduga Curi Motor, Pria 40 Tahun Tabrak Mobil di Jalan Kapitan Sukabumi
Dia juga menyoroti potensi meluasnya persoalan apabila dualisme di tingkat kabupaten tidak segera diselesaikan. Apalagi, masing-masing kelompok berpeluang membangun konsolidasi organisasi hingga tingkat kecamatan dan desa.
Situasi tersebut dikhawatirkan memunculkan kebingungan baru di kalangan pemuda yang seharusnya memiliki satu wadah organisasi untuk berhimpun dan berkolaborasi.
Pertanyaannya, sampai kapan dualisme KNPI Kabupaten Sukabumi akan terus berlarut-larut?
Pemuda Kabupaten Sukabumi membutuhkan organisasi yang mampu menjadi ruang persatuan, pengembangan kapasitas, serta wadah untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Bukan organisasi yang terus dibayangi konflik kepengurusan.
Baca Juga : Foto Gibran Tak Kembali ke Ruang Kerja Rojab Asy’ari, Ini Alasannya
Pertemuan sudah dilakukan, tetapi kesepakatan belum tercapai. Kini, yang dibutuhkan bukan sekadar dialog lanjutan, melainkan langkah penyelesaian yang jelas dan memiliki kepastian legitimasi.
Sebab, jika dualisme terus berlarut-larut, yang dipertaruhkan bukan hanya persoalan siapa yang memimpin KNPI. Lebih dari itu, kepercayaan pemuda terhadap organisasi yang seharusnya menjadi rumah bersama juga ikut dipertaruhkan.
KNPI harus menjadi rumah bersama bagi pemuda, bukan arena konflik kepengurusan yang tidak kunjung berakhir.













Respon (1)